Beritasumut.com-Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, dr Bambang Prabowo MKes mengaku, pihaknya masih harus menunda peluncuran instalasi Hemodialisa (HD) dirumah sakit milik Kemenkes ini. Pasalnya hingga sekarang, masih banyak pembenahan yang harus dilakukan pada gedung yang ditujukan sebagai instalasi cuci darah tersebut. Bambang juga membenarkan jika peluncuran instalasi HD molor dari jadwal yang sudah ditetapkan. Beberapa kendala yang ditemukan masih membutuhkan waktu untuk dilakukan perbaikan. "Instalasi HD memang belum selesai. Masih ada beberapa kekurangan, seperti pada pembuangan limbah, belum masuknya panel listrik, dan liftnya juga belum ada," katanya kepada wartawan, Selasa (14/02/2017). Dalam laporan tertulis yang ia terima, ujar Bambang, pasokan listrik belum sepenuhnya berfungsi. Padahal sesuai target, seharusnya instalasi HD saat ini, operasional sudah dijalankan. Selain itu Bambang juga menjelaskan, RS Adam Malik masih menunggu semua persiapan yang dilakukan. Pihaknya juga sudah sering meninjai ke lokasi dan ternyata belum selesai. "Semuanya sudah difasilitasi, tinggal pihak terkait mengembangkan pembangunannya saja, dan terpenting harus dikerjakan dengan baik," sebutnya. Namun, ada atau tidaknya instalasi HD, sebut Bambang, sebenarnya tidak menjadi masalah bagi RS Adam Malik. Karena, digedung yang lama pasien tetap bisa ditangani, hanya saja bila semua pengobatan cuci darah dipindahkan ke instalasi yang baru, gedung lama dapat dimanfaatkan untuk pengembangan instalasi lain. "Pengembangan rumah sakit memang agak repot jadinya kalau instalasi HD ini belum selesai. Karena masih banyak yang harus dikembangkan, seperti radioterapi, kedokteran nuklir. Inikan butuh tempat. Sementara lahan kita terbatas," ujarnya. Menurutnya, instalasi HD yang akan diluncurkan nantinya harus memenuhi standar pelayanan yang menitikberatkan pada keselamatan pasien (pasien safety). Apalagi, pasien safety sudah menjadi isu internasional, dimana pun pasien harus selalu diutamakan. Bambang menerangkan, pasien datang ke RS sudah mengeluarkan uang untuk mendapatkan pengobatan. Meskipun ada yang pribadi atau pun ditanggung penyandang dana seperti BJPS Kesehatan. "Bahkan pada waktu studi banding di Eropa, RS di sana juga menitikberatkan pada keselamatan pasien. Sebab dalam menangani pasien, kita tidak boleh asal-asalan," tandasnya.(BS07)