Anomali Iklim, Masyarakat Diminta Waspadai Penyakit DBD, ISPA, dan Diare

- Jumat, 03 Februari 2017 06:20 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir022017/2212_Anomali-Iklim--Masyarakat-Diminta-Waspadai-Penyakit-DBD--ISPA--dan-Diare.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Hidup Sehat
Beritasumut.com-Tahun 2016 telah ditetapkan sebagai tahun terpanas dalam sejarah. Organisasi meteorologi dunia (WMO) meneliti, pada tahun 2016 kemarin, suhu atmosfer bumi mengalami kenaikan hingga 1,1 derajat celsius dibandingkan periode sebelum revolusi industri tahun 1850-1899. Kenaikan suhu di atmosfer ini telah memicu anomali iklim yang berdampak bagi penduduk bumi.

 

Anomali iklim ini sangat luas pengaruhnya sebab mempengaruhi aspek lingkungan yang berdampak pada kesehatan. Terkhusus masyarakat di kota Medan, Sumatera Utara. Menanggapi ini, Dokter Spesialis Infeksi dan Penyakit Tropis DR dr Umar Zein DTM&H SpPd KPTI menggungkapkan, sejumlah penyakit, dapat ditimbulkan dari anomali iklim.

 

"Yang paling besar kemungkinan dampaknya untuk di Kota Medan terkait anomali iklim ini adalah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta diare. Hal ini tentu sangat mengancam," papar Umar, Kamis (02/02/2017)

 

Umar Zein menjelaskan, kondisi ini sangat berpengaruh kepada perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Dengan suhu panas, maka nyamuk akan lebih cepat dewasa dan bertelur. "Populasi nyamuk akan menjadi banyak. Sehingga sangat perlu sekali dilakukan pengendalian sarang nyamuk dan kemudian perlunya foging," jelasnya.

 

Lebih lanjut, untuk ISPA dan diare, sambung Umar Zein, suhu panas akan mendorong terjadinya polusi. Akibatnya, banyak debu yang beterbangan di udara, yang sangat berdampak bagi kesehatan tubuh. "Debu yang terhirup akan dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Begitupun diare, apabila sampai terkena makanan atau minuman," sebutnya.

 

"Meski demikian, kondisi fisik sangat mempengaruhi ketiga penyakit itu bisa sampai terjadi. Oleh karenanya perilaku hidup bersih seperti cuci tangan pakai sabun harus dapat dijalankan. Kelompok bayi, balita, ibu hamil, usia lanjut, dan mereka yang menderita penyakit kronis sangat mungkin sekali terkena," terang Umar.

 

Peningkatan suhu panas bumi ini, lanjut Umar, situasinya akan sangat berbeda di masing-masing wilayah. Di Indonesia, khususnya Medan, wilayahnya memiliki tingkat kelembaban yang tinggi. "Jadi kemungkinan untuk terkena head stroke yang menyebabkan meninggal dunia akibat panas seperti di India tidak akan sampai terjadi. Disana kelembapan udaranya rendah, sehingga mudah dehidrasi, sedangkan disini tinggi," tandasnya. (BS03)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Universitas Pertamina Bahas Risiko Iklim dan Transisi Energi di ICONIC-RS 2025

Kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Tegaskan Komitmen Pelayanan Pasca-libur Lebaran

Kesehatan

Ranperda Trantibum Disetujui, Gubernur Sumut Optimis Iklim Usaha Akan Lebih Baik

Kesehatan

BPJS Kesehatan Pastikan Akses Layanan JKN Tetap Terbuka Selama Libur Lebaran

Kesehatan

Sidak RSUD Djoelham, Wawako Binjai Pastikan Semua Pelayanan Setara

Kesehatan

Wakil Walikota Medan Resmi Berkantor di Rumah Sakit Pirngadi