Beritasumut.com-Dua pasien RSUP H Adam Malik asal Aceh, satu berinisial AB (15) dipastikan positif menderita difteri, sedangkan pasien lainnya MA (15) dinyatakan negatif. Hal ini berdasarkan hasil diagnosa dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, setelah sebelumnya melakukan uji laboratorium. Saat ini kondisi kedua pasien sudah berangsur pulih. Kendati, keduanya masih tetap harus dirawat di ruang infeksius rumah sakit milik Kemenkes tersebut."Dari dua pasien, untuk satu kasusnya positif dari Litbang Kemenkes," ungkap dokter penanggung jawab kedua pasien di RSUP H Adam Malik, dr Hendri Wijaya MKed (Ped) SpA, Senin (30/01/2017). Hendri mengatakan, meskipun awalnya kedua pasien sama-sama suspect, tetapi pihak RS sudah memberikan pengobatan untuk penyakit difteri. Untuk konfirmasi diagnosis, pihaknya bekerja sama dengan mikrobiologi RSUP H Adam Malik. Kemudian memastikan negatif dan positifnya di laboratorium Litbang Kemenkes."Pengobatan sudah kita berikan serum antidifteri. Kemudian antibiotik selama 10 hari sejak masuk RS," katanya. Hendri menjelaskan, pihak RS juga sudah bergerak cepat dan berkoordinasi dengan dokter yang merawat sebelumnya, serta Dinas Kesehatan Sumut. Karena, penularan penyakit yang disebabkan bakteri corynebacterium diphtheriae ini berlangsung melalui saluran udara, pernafasan dan barang-barang yang terkontaminasi penderita, serta bisa juga ditularkan lewat bersin dan batuk. "Kenapa satu anak positif dan tidak, tergantung status imunitasnya. Masa inkubasi (kuman masuk dan menimbulkan gejala) difteri itu cepat. Paling cepat tiga hari dan paling lama 14 hari. Jadi kalau yang cepat, perkembangannya cepat," terangnya. Menurutnya, banyak masyarakat tidak bisa membedakan gejala difteri dan pilek biasa. Penyakit ini diawali demam, susah menelan dan pilek. Perbedaannya hanya ketika ditemukan bintik putih di tenggorokan."Meski pun MA negatif difteri. Kami tetap obati dia sebagai pasien difteri karena dia tetap terkontaminasi dengan AB yang sudah positif," lanjutnya. Begitupun sambung dia, kedua pasien kini sudah pulih dan pada Selasa (31/1) nanti sudah diperbolehkan pulang. Ia menyebutkan, difteri menular kalau tidak diobati. Imunisasi berpengaruh pasien terserang difteri."Imunisasi tetap perlu. Kedua pasien ini juga belum tahu imunisasinya lengkap atau tidak. Kita dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau pemerintah membuat imunisasi dosis ulangan," tegasnya. Sebelumnya, Kassubag Humas RSUP H Adam Malik, Masahadat Ginting menyebutkan, orangtua kedua pasien tidak mengetahui penyebab anak mereka terjangkit suspect difteri. Menurutnya, difteri sangat langka. Kasusnya kerap terjadi di era 80an."Imunisasi berpengaruh untuk menjaga kekebalan tubuh agar terhindar dari difteri," pungkasnya. (BS03)