Beritasumut.com-Penanganan pencegahan penyakit Demam Berdarah Dangue (DBD) khususnya di Kota Medan tidak berjalan secara efektif. Akibatnya, jumlah penderita penyakit mematikan ini justru setiap tahun cenderung meningkat, bahkan terus memakan korban jiwa. "Kalau pencegahan bisa berjalan efektif, tentu tidak akan terjadi hal seperti ini. Itulah yang kita sesalkan," ungkap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan, dr Ramlan Sitompul SpTHT kepada wartawan, Senin (23/01/2017). Menurut Ramlan, DBD adalah suatu jenis penyakit yang sebetulnya dapat dikendalikan. Asalkan, fungsi Puskesmas dan Dinas Kesehatan, menurutnya bisa berjalan dengan baik dalam hal melakukan upaya pencegahannya."Jika terus meningkat, tentu bisa menghabiskan uang negara. Karena pasien yang diobati, umumnya sudah memakai jasa layanan BPJS, Kesehatan," tegasnya. Sebelumnya, salah seorang warga Perumahan Griya Martubung I, Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan, Nazwa Binti Pulungan meninggal dunia di RS Colombia pada Sabtu (21/01/2017) lalu. Balita berusia 4 tahun 6 bulan ini meninggal dunia karena menderita DBD.Selain itu, saudaranya Alwi Ahmad Zayyan Pulungan (9) juga turut terkena DBD. Namun, siswa yang duduk di kelas III SD IT Nurul Azmi Medan ini, kini masih dirawat di RS Columbia. Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Sumut antara tahun 2015 dan 2016 jumlah DBD mengalami kenaikan sebanyak 2.089 kasus. Kota Medan tercatat di tingkat teratas dengan 3.010 penderita dan 17 meninggal. Kemudian disusul Deli Serdang sebanyak 1.958 penderita dan 10 meninggal dan Kabupaten Simalungun sebanyak 1.733 penderita namun tidak ada yang meninggal."Kalau data kita, untuk di Kota Medan bukan 17 yang meninggal tetapi ada 12," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan drg Usma Polita. (BS03)