Beritasumut.com-Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang bersifat kronis dan melemahkan sistim kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan pengidap DM kemungkinan bisa mengalami Tuberculosis (TB).“Jadi, pentingnya mereka yang mengalami penyakit DM untuk dilakukan pemeriksaan apakah juga ditemukan penyakit TB,” ungkap Tehnical Officer KNCV, dr Chandra Widjaja MKes menyikapi kemungkinan pengidap DM juga mengalami TB, Kamis (27/10/2016).Dijelaskannya, orang yang DM resiko terkena TB juga dua kali lebih besar dari yang tidak DM, begitupun sebaliknya.“Tingkat kematian yang DM-TB lima kali lebih besar, dan empat kali lebih besar kekambuhan TB,” jelas Chadra seraya menambahkan jika pasien DM dan TB perlu dilakukan screening secara kolaborasi. Di mana, untuk pasien TB diperiksa kadar gula darahnya, dan kalau terdeteksi DM, dilakukan pengobatan yang sinergis agar lebih terjamin kesembuhannya.Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional 2013 dan International Diabetes Federation (IDF) 2014, jumlah penyandang DM di Indonesia mencapai sebanyak 9,1 juta orang, dan diperkirakan naik pada tahun 2030 mendatang menjadi sebanyak 21,3 juta orang.Sedangkan, menurut WHO 2013, diperkirakan kasus TB di dunia mencapai 1,1 juta orang, diantaranya 9 juta adalah kasus baru dan sekitar 1,1 juta meninggal. Untuk di Indonesia, berdasarkan Global TB Report 2014, diperkirakan 680 ribu kasus TB, di antaranya 460 ribu kasus baru atau 272 per 100 ribu penduduk.Kordinator Provinsi untuk KNCV Challenge TB, dr Junida Sinulingga MKes mengatakan, dari screening TB-DM yang dilakukan di Poli DOTS dan Endokrin RSUP H Adam Malik Medan tahun 2014, ditemukan dari 50 penderita TB didapat 21 orang juga menderita DM.“Ini termasuk tinggi, makanya perlu dilakukan screening. Kalau ada gejala seperti batuk dua minggu, keringat malam, badan lesu, lemah, harus dilakukan pemeriksaan. Kalau ada sputum (dahak) maka dilakukan ronsen atau foto,” ujarnya.Karenanya, sambung dia, Kemenkes sudah menyusun panduan pengelolaan TB-DM di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas kerjasama dengan lintas sektor, lintas program dan organisasi profesi.“Kita juga melakukan sosilaisasi TB-DM di Puseksmas dan rumah sakit. Diharapkan petugas kesehatan di FKTP melakukan pelayanan berkualitas dalam menangani pasien TB-DM untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” terangnya.Sementara itu, Kepala seksi Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Sumut, Sukarni mengatakan, akibat DM beresiko untuk TB, maka setiap penyandang DM dilakukan pemeriksaan apakah pernah TB atau belum. Begitu juga untuk yang TB agar tidak memperberat TB nya."Kita sudah melakukan sosialisasi dan berharap petugas di fasilitas pelayanan kesehatan bisa menemukan kasus TB dan adanya pemeriksaan DM dan TB, agar keduanya bisa ditanggulangi," pungkasnya. (BS03)