Kabupaten Asahan Tempati Peringkat Tertinggi Penderita Kaki Gajah di Sumut

- Rabu, 14 September 2016 20:30 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir092016/3289_Kabupaten-Asahan-Tempati-Peringkat-Tertinggi-Penderita-Kaki-Gajah-di-Sumut.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/IST
Penyakit kaki gajah.

Beritasumut.com-Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumut pada tahun 2015, jumlah penderita kaki gajah yang tersebar di kabupaten/kota di Sumatera Utara mencapai 111 penderita. Sementara pada tahun 2016 ini, penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria melalui perantara nyamuk tersebut jumlah penderitanya naik menjadi 156 orang.

 

"Dari 156 penderita kaki gajah ini, Kabupaten Asahan menempati urutan tertinggi dengan jumlah penderita 36 orang. Menyusul Langkat dan Tapteng masing-masing 12 penderita, Madina 10 penderita, Medan 4 penderita, Siantar 3, Tanjungbalai dan Paluta 2 penderita dan Palas 1 orang," sebut Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan NG Hikmet melalui Koordinator Program Tular Vektor dan Zoonosis Teguh Supriadi, Rabu (14/09/2016).

 

Teguh mengungkapkan, sebenarnya Dinas Kesehatan sudah memiliki program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) filariasis. Hanya saja pemberian obat tersebut diakuinya masih bersifat parsial, di beberapa kabupaten/kota, yakni, Sergai, Batubara, Labura, Labusel, Tapsel, Nias Barat, Gunung Sitoli dan Deli Serdang."Dari kabupaten/kota yang termasuk dalam program POPM itu terdapat 68 kasus atau penderita pada tahun 2016," sebutnya.

 

Dari 68 kasus tersebut penderita yang paling tinggi terang dia, berada di Labusel 34 kasus, Batubara 12 kasus, Labura 10 kasus, Gunung Sitoli 7 kasus. Program POPM yang dilangsungkan di kabupaten/kota tersebut dilakukan karena adanya hasil surveilans ditemukannya filaria.

 

Sedangkan, untuk kabupaten/kota di luar program POPM yang sudah tercatat memiliki penderita akan dilakukan survei secara bertahap untuk menentukan presentasi positif penduduk yang mengandung mikrofilaria.

 

"Jika memang di kabupaten/kota tersebut ada lebih 1 persen dari sampel maka akan dilakukan pengobatan massal. Survei bertahap bekerjasama dengan Kemenkes juga dilakukan mulai tahun ini dengan harapan pada tahun 2020 kasus kaki gajah dapat tertanggulangi alias zero kasus," pungkasnya.(BS03

 


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Polda Sumut Ungkap Situs Judol Depobos, Lima Pelaku Pernah Kerja di Kamboja

Kesehatan

Wakapolda Sumut dan Kapolresta Deli Serdang Diganti

Kesehatan

Pertamina Sumbagut dan Kabinda Sumut Perkuat Sinergi Jaga Kelancaran Distribusi Energi

Kesehatan

40 Orang Positif Narkoba Diamankan saat Penggerebekan di Medan

Kesehatan

Truk Pengangkutan Air Minum Tabrak Pagar UPTD RS Khusus Mata Sumut

Kesehatan

Ketua BTN PSSI Sebut Gubernur Bobby Nasution Peduli Sepak Bola Kelompok Usia