Beritasumut.com-Ratusan orang duduk di kursi ruang Gedung Utama Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan No 33 Medan, sekaligus berulang-sambung melepas tawa, Selasa (16/08/2016) sore.Dalam kurun hampir satu jam, mereka bebas melepas tawa sepuasnya, tanpa sesiapa pun berhak melarangnya. Tapi, pastilah takkan membuncah tawa kalau tak ada pemicunya. Ratusan orang itu tertawa melihat lucunya penampilan Teater "O" USU mementaskan "Ruang 3 Tanpa Bendera" karya/sutradara Yulhasni, mengisi Pergelaran Seni Sastra Program Kerja TBSU 2016.Dikisahkan, Codoik hidup dalam dua zaman; saat rakyat berjuang melawan penjajah dan zaman setelah kemerdekaan. Oleh warga sekitarnya, Codoik dianggap tak waras karena selalu berteriak; "Indonesia belum meredeka!" Dia juga sering meneriakkan; "Serang Belanda!", "Usir penjajah!" dan lainnya.Kelakuan Codoik itu dipicu traumannya pada orang-orang berseragam, yang setelah zaman kemerdekaan malah menghabisi nyawa ayahnya karena dianggap menentang negara, ketika melakukan perlawanan demi mempertahankan sepetak tanah yang diusahainya sebagai kebun dari upaya penguasaan orang-orang berduit.Codoik yang malang pun mengalami nasib tak jauh beda dengan sang ayah. Demi kekhidmatan upacara kemerdekaan tingkat kabupaten yang dipusatkan di kecamatan tempatnya berada dan akan dihadiri bupati, agar tak membikin ribut seperti upacara kemerdekaan sebelum-sebelumnya, rapat kecamatan memutuskan Codoik dilenyapkan.Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Drs Elisa Marbun MSi diwakili Kepala TBSU Drs Jamal Karo Karo MSn, melalui sambutannya saat membuka kegiatan itu mengatakan, pergelaran sastra memiliki sifat sangat lentur dan strategis sebagai media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan ke masyarakat.Karenanya, kata dia, diselenggarakannya pergelaran sastra itu diharapkan bisa memberikan dampak positif tidak hanya berupa dukungan terhadap peningkatan kualitas kesenian, tapi juga memberikan kontribusi dalam kehidupan bernbagsa.Sedangkan Kepala TBSU Drs Jamal Karokaro MSn diwakili Drs Bangun Nasution, di dalam laporannya menjelaskan, pergelaran sastra tersebut merupakan upaya untuk merangsang peningkatan daya kreasi dan inovasi dalam berkesenian. Lebih dari itu, juga dimaksudkan sebagai dukungan untuk mengalirkan energi-energi positif bagi jiwa dan semangat juang generasi muda Indonesia.(rel)