Beritasumut.com-Pakar kopi yang juga menyenangi dunia sejarah dan traveling, Toni Wahid mengungkapkan bahwasanya cengkeh sebetulnya tidak dapat dilepaskan dari harumnya kejayaan Sumatera Utara (Sumut). Hal ini dikatakannya, sejak pertama kali tumbuhan cengkeh menyebar keluar dari pulau Maluku tahun 1870 lalu. Toni menilai, hingga saat ini Sumut masih diakui sebagai salah satu wilayah penghasil cengkeh berkualitas terbaik. "Bahkan cengkeh masih menjadi komoditas perkebunan Sumatera Utara yang bernilai ekonomi tinggi," ungkap Toni di stand Paviliun Mahakarya Indonesia Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke 46, Jumat(31/03/2017). Toni menjelaskan, cengkeh adalah topik yang tak akan pernah habis dibahas, karena kisah dibalik rempah yang terlihat sederhana ini ternyata sangat luar biasa. "Dengan sejarah yang begitu panjang, disertai fungsi dan manfaat yang begitu banyak, rasanya tak berlebihan jika cengkeh disebut sebagai salah satu Mahakarya Indonesia," jelasnya. Lebih lanjut Toni menerangkan, penggunaan cengkeh kini semakin kreatif, seperti bahan campuran pembuatan kopi. Selain hasilnya menjadi lebih hangat, aroma yang tercipta juga dikutip menjadi unik dan khas. Dengan keistimewaan ini, lanjut dia, tak heran jika harum dan nikmatnya cengkeh dihadirkan sebagai salah satu primadona di paviliun Mahakarya Indonesia ini. "Percaya bahwa segala sesuatu yang berharga harus dijaga sempurna. Paviliun ini menghadirkan kelas Master Blend yang memperlihatkan keistimewaan pembuatan sebuah mahakarya, dimana para pengunjung dapat melihat langsung proses memilih dan meracik paduan tembakau dan rempah berkualitas terbaik, termasuk cengkeh," tandas Toni. Sementara itu, Tim pelaksana event dari Kilau Indonesia Renaldo Ratman menuturkan di paviliun eksklusif ini pengunjung dapat mengetahui lebih jauh tentang sejarah Dji Sam Soe yang dikemas menarik dalam mini museum berisi beragam memorabilia, atau belajar mengenal biji kopi Sumut yang berkualitas sambil mencoba teknik penyajian kopi terbaik. "Dapat juga menjajal aktivitas unik yaitu cethe atau seni lukis batang rokok menggunakan ampas kopi yang dipandu langsung oleh senimannya, selain mempertunjukkan kesenian budaya lokal. Pada akhirnya, diharapkan kunjungan ke paviliun ini dapat menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap kekayaan mahakarya khususnya Sumut," pungkasnya. (BS03)