Beritasumut.com-Permintaan masyarakat Medan minim, Kota Medan dinilai belum membutuhkan pembangunan rumah susun minim (rusunami). Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua Umum Kadin Sumut Bidang Properti dan Infrastruktur Tomi Wistan. "Pembangunan rusunami tidak terlalu menarik bagi masyarakat, sehingga pengembang tidak berani membangun rusunami. Cuma membangun apartemen low cost, termasuk komersil," kata Tomi saat bertemu dengan wartawan di Merdeka Walk, Medan, Senin (30/01/2017). Tomi menyebutkan rusunami adalah salah satu hunian yang layak dipertimbangkan dan melihatnya dari segi capaian tempat tinggal dan tempat kerja. Menurutnya rusunami bukan diperuntukkan sebagai investasi tapi kebutuhan untuk industri. Peruntukkan juga kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan rumah."Kalau di Medan kan jarak antara lokasi kerja dengan pekerjaan atau area industri tidak terlalu jauh. Itulah yang menjadi pertimbangan masyarakat lebih memilih membeli rumah di pinggiran ketimbang rusunami," ujarnya. Karena itulah, lanjut Tomi, pengembang lebih memilih apartemen low cost. Menurutnya, apartemen low cost banyak menarik peminat bagi masyarakat menengah ke bawah. Pada umumnya masyarakat membelinya sebagai rusmah kedua. "Biasanya untuk investasi anak-anak kuliah," ujar Tomi. Tomi mengakui harga rusunami terbilang mahal dan tidak efisien, sehingga dirasa kurang dibutuhkan oleh masyarakat Medan yang lebih membutuhkan efisiensi bangunan.Untuk simulasi perhitungannya, katanya, di rusunami harga per meter persegi adalah Rp 9 juta. Maka untuk ruangan yang bertipe 30 saja harganya sudah mencapai Rp270 juta. “Dengan harga segitu, masyarakat Medan lebih memilih rumah di pinggiran Medan saja. Lebih murah. Atau apartemen low cost. Dan tidak repot harus naik turun gedung rusunami yang tinggi. Tidak efisien,” pungkasnya. (BS03)