Mahasiswa Indonesia Gelar Water Film Screening Pertama di Tengah Danau di Taiwan

- Senin, 26 Desember 2016 17:30 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir122016/6794_Mahasiswa-Indonesia-Gelar-Water-Film-Screening-Pertama-di-Tengah-Danau-di-Taiwan.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
BERITASUMUT.COM/IST
Richad Yanato, mahasiswa Indonesia yang menggelar water film screening di kampus Yuntech, Taiwan.
Beritasumut.com-Salah satu mahasiswa Indonesia di Taiwan, Richad Yanato menggelar water film screening untuk pertama kali di kalangan mahasiswa se-Taiwan tepatnya di kampus National Yunlin University of Science and Technology (Yuntech), Minggu (25/12/2016).

 

Water film screening tersebut merupakan rangkaian dari acara The Cries of Sea Photo Exhibition and Film Screening yang berlangsung di kampus Yuntech sejak 25 hingga 30 Desember mendatang. Selain pemutaran film di indoor dan outdoor, acara yang berlangsung selama 6 hari tersebut juga memamerkan 17 buah foto yang bercerita tentang kisah para ABK.

 

"Screening film di dalam ruangan atau theater sudah biasa. Saya ingin membuat sesuatu yang lebih spesial untuk menarik perhatian dari para warga Taiwan ataupun internasional untuk menyaksikan film dokumenter ini. Tujuannya agar mereka dapat lebih memahami tentang masalah yang dihadapi oleh teman-teman ABK di Taiwan," ujar Richad.

 

Adrian Irnanda, salah satu pengunjung acara mengatakan bahwa pemutaran ini merupakan salah satu cara yang unik. Di mana pengunjung diajak untuk menonton film di depan danau dengan projector yang menembak ke layar air."Selama ini saya hanya melihat film di televisi, projector ataupun bioskop. Kali ini saya melihat sesuatu yang baru dengan menyaksikan pemutaran film yang dilakukan di tengah danau," terangnya.

 

The Cries of Sea merupakan film dokumenter pendek yang menceritakan tentang kisah ABK LG (letter of guarantee) yang bekerja di kapal Taiwan. Di mana mereka harus bekerja selama 6-36 bulan di lautan Afrika dan Argentina dengan gaji USD 300 per bulan. Uang tersebut masih harus dipotong biaya agensi sebesar USD 150 per bulan untuk biaya penempatan kerja selama 1 tahun pertama dan USD 100 per bulan hingga selesai kontrak sebagai uang jaminan. Jadi di tahun pertama mereka hanya menerima USD 50 atau sekitar Rp 600 ribu per bulan.

 

Di samping bekerja dengan gaji kecil, film karya mahasiswa S2 jurusan DKV tersebut juga menceritakan tentang ABK yang sering disiksa oleh kapten kapal. Mereka juga tidak memiliki jaminan asuransi kesehatan apabila terjadi kecelakaan kerja atau sedang sakit. Para ABK tersebut hanya dibawa berobat seadanya di klinik atau hanya diberikan obat.

 

"Menurut data dari KDEI (Kantor Dagang Ekonomi Indonesia) Taipei, setiap tahunnya terdapat sekitar 3,000 ABK LG asal Indonesia di Taiwan. Ini merupakan jumlah yang besar. Sebagai salah satu pahlawan devisa, kesejahteraan dan jaminan kesehatan mereka merupakan tanggung jawab dari pemerintah Indonesia," lanjut sang sutradara.

 

Film berdurasi 17 menit yang diproduksi pada tahun 2013 tersebut telah mendapatkan 3 buah penghargaan di kompetisi bergensi skala nasional Taiwan, yaitu juara 1 kategori film dokumenter di 2nd legend Film Festival, special jury prize di Youth Film Festival dan juara 3 di New Taipei City Labor Bureau Micro Film Award.

 

Menurut Tay Jou Lin, salah satu sutradara film dokumenter di Taiwan, film ini merupakan sebuah karya yang unik. Di mana sebelumnya belum pernah ada mahasiswa Indonesia yang menggali cerita tentang kisah ABK Indonesia di Taiwan."Tidak heran jika film ini mendapat beberapa penghargaan. Pasalnya selama ini belum ada sutradara yang mengambil cerita tentang mereka. Ini juga merupakan salah satu masalah yang cukup serius dan harus diselesaikan," tegasnya. (Rel)

 


Tag:

Berita Terkait

Gaya Hidup

Bakamla RI Jemput 3 ABK Yang Ditangkap Malaysia

Gaya Hidup

Bakamla RI Evakuasi ABK Kapal Tanzania Terbakar di Perairan Pulau Timor

Gaya Hidup

Bakamla RI Temukan Jenazah Warga Negara Taiwan Ngambang di Perairan Jakarta

Gaya Hidup

Bakamla RI Serahkan ABK Korban Kapal Tenggelam Kepada Keluarga

Gaya Hidup

BABKI Gelar Lingga Super Grasstrack Rebutkan Piala Plt Bupati Langkat

Gaya Hidup

Bakamla RI Cari ABK KM Teman Niaga Yang Tenggelam di Selat Makassar