Beritasumut.com-Pengamat Hukum dan Pemerintahan dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Rio Affandi Siregar mengatakan pernyataan dari Kepala BPMP Sumut Purnama Dewi sangat disayangkan, sebab tidak menunjukkan kenyataan sebenarnya bahwa Gebyar Kerajinan Daerah 2016 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Sebab dari jumlah pengrajin yang ikut serta dalam even tersebut, nyatanya mengalami penurunan yang signifikan, mengingat saat ini akses informasi sudah semakin mudah. “Kalau memang menurun, artinya tidak sesuai dengan klaim peningkatan yang mereka sampaikan. Sehingga harus dicari tahu (evaluasi) kenapa bisa seperti itu,” ujar Rio kepada wartawan, Senin (05/09/2016). Menurutnya, kegiatan yang dilakukan BPMP Sumut merupakan cerminan bahwa gebyar kerajinan tahun ini sama sekali tidak menunjukkan kesan bermasyarakat. Sebab hingga kini, belum ada konsep jelas dari pemerintah khususnya BPMP Sumut bagaimana mengembangkan produk UKM agar bisa dipasarkan. “Selama ini kita tahu, Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada itu sebagian besar berusaha mencari pasarnya sendiri, mereka harus pontang-panting sendiri, tidak ada jaminan dari pemerintah kah. Contohnya di Jogja, para pengrajin batik, punya pasar di Malioboro,” sebutnya. Selain itu, dengan menampilkan para istri pejabat, justru memberikan kesan, kegiatan ini hanya untuk tontonan saja. Pasalnya, untuk penampilan peragaan busana, selayaknya mengedepankan partisipasi masyarakat. “Kalau mereka yang jadi modelnya (istri pejabat) ya masyarakat hanya jadi penonton saja. Sementara partisipasi publik hanya isapan jempol belaka. Tentu komunitas masyarakat awam kurang tersentuh,” pungkasnya. Sebelumnya Gubernur Sumatera Utara H T Erry Nuradi, bersama ketua Dewan Kerajinan Daerah Sumut Ny Evi Diana meresmikan pelaksanaan Gebyar Kerajinan Daerah yang digelar di Merdeka Walk, Lapangan Merdeka Medan, Jumat (02/09/2016). Dalam acara Gebyar Kerajinan Daerah 2016 tersebut, panitia menampilkan pameran produk dan fashion show oleh para istri pejabat yang mengenakan busana dari bahan ulos, tenun, batik dan songket. Gubernur Sumut mengharapkan Gebyar Kerajinan Daerah dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pengrajin untuk promosi. Menurutnya, di Sumut saat ini memiliki 2,5 juta pelaku usaha, dimana 40% diantaranya adalah usaha mikro, 30% usaha menengah dan 30% usaha kecil. Meski cukup banyak produk kerajinan usaha kecil asal Sumut yang sudah menembus ekspor, namun sebagian besar masih dalam tahap pengembangan. (BS03)