Berbagai pujian dan kata-kata yang luar biasa telah disematkan kepada Timnas U-19. Siapa pun tahu, belasan tahun Indonesia tidak lagi pernah mendapatkan juara di semua level kejuaraan sepakbola. Kehausan perolehan juara tersebut, sejajar dengan kemampuan skill pemain nasional yang sama sekali tidak memadai.
Ada banyak hal yang membuat kepala seseorang menggerutu ketika melihat permainan timnas senior, operan bola tidak akurat, minim umpan silang, permainan statis dan tidak terencana, fisik lemah, tendangan bebas tidak akurat dan gampang patah semangat. Itu terlihat mulai dari jamannya Bambang Pamungkas hingga sekarang. Semua kelemahan ini telah dibahas berbagai media, pencinta olah raga.
Namun, ketika menonton Timnas U-19, semua penyakit klasik yang saya sebutkan di atas terbantahkan. Apa yang terjadi pada timnas U19 adalah kebalikan dari keadaan yang dialami oleh timnas senior. Pada Timnas U-19, skill individu jauh di atas rata-rata pemain senior indonesia, ataupun pemain klub di Indonesia.
Melihat Maldini, Udin, dll menggiring bola melewati pemain Korsel seperti melihat cara bermain Liga Inggris dan spanyol. Umpan pendek dan umpan jauh, maupun umpan silang yang mereka lakukan sungguh luar biasa.
Terus terang, saya tidak pernah melihat skill seperti pada pemain senior sepakbola Indonesia. Belum lagi melihat tendangan bebas arah gawang. baru di tim ini saya melihat ada sepakan bola pisang melengkung oleh pemain Indonesia. Itu terlihat dari permainan lawan Filipina kemarin yang mencoba gaya parkir bus di depan gawang.
Nafasnya juga sungguh luar biasa. Mereka (U-19) sangat jelas berbeda ketahanan fisiknya dengan timnas senior maupun pemain klub lain. Ketika membawa bola melewati beberapa pemain Korsel, Maldini dkk tidak gampang jatuh, menyerah.
Bila menonton Liga Inggris, saya melihat seperti ada magnet bola pada kaki mereka, ada kontrol bola yang sempurna. Pada Timnas U-19, walaupun tidak sesempurna Real Madrid ataupun Barca, kontrol bola mereka sudah mengarah ke sempurna. Akurasi umpan dekat dan umpan jauh sangat akurat. Memanfaatkan ruang kosong dan paling utama adalah U-19 menunjukkan permainan yang berkarakter. Cara bermain timnas yang saya bayangkan, sudah diwakili oleh Datuk Indra Sjafri.
Menjaga dan Meningkatkan Mutu
Apakah sudah puas pada peroleh sekarang? Tentu tidak. Indra Sjafri telah menegaskan bahwa target utama sekarang adalah lolos para putaran Piala Dunia U-20. Dan yang sudah di tangan saat ini adalah, Timnas U-19 akan bertarung pada putaran Final U-19 di Myanmar Tahun 2014. Dengan mengalahkan raksasa Korsel yang merupakan juara betahan dan 12 kali juara, merupakan modal dasar.
Sebagai pelatih, saya yakin Indra Sjafri telah memiliki berbagai rencana dan program. Menurut saya, ada dua hal yang hal yang harus dilakukan rakyat Indonesia. Pertama rencana program tersebut jangan diganggu dengan berbagai kepentingan bisnis, kepentingan politik 2014. Kedua, rencana dan program tersebut wajib didukung oleh rakyat Indonesia. Kita harus memastikan bahwa Indra Sjafri bebas bekerja seperti yang selama ini dia lakukan.
Dalam wawancara di telivisi saya melihat bahwa Indra Sjafri menegaskan, semua pemain wajib mengikuti aturan main. Dan bila ada pemain yang mencoba lari dari aturan, sedikitpun dia tidak ragu ragu mencoret dari daftar pemain. Menurut Indra Sjafri, saat ini ada puluhan pemuda yang telah diseleksi yang memiliki kualitas sama dengan Timnas U-19 saat ini.
Indra juga menjelaskan bahwa sudah ada beberap event organizer (EO) yang menawarkan laga dengan Tim Eropa. Tapi Indra mengatakan, “Jangan jual Timnas seperti itu, bila mau membantu, silahkan ikuti dan dukung jadwal yang sudah saya susun”.. Sebuah perubahan kita rindukan, sebah prestasi kita rindukan. Itu kita peroleh dari seorang Indra Sjafri beserta puluhan pemain Timnas U-19 yang memiliki karakter dan yang tidak goyah. Indra Sjafri menerima status pelatih Timnas U-19 dengan satu syarat: bebas memilih pemain dari berbagai daerah. Dan itu lakukan dengan berkeliling daerah mencari bibit terbaik.
Memang, dalam situasi Bangsa Indonesia yang sedang carut marut korupsi, carut marut kemiskinan, dan carut marut politik 2014, dan miskin prestasi olahraga, muncul satu pengobat lara, pengobat duka yang memberi warna bagi Bangsa Indonesia. Semua orang ternyata merindukan, semua orang ternyata menginginkan yang terbaik. Namun untuk dapat yang terbaik di bidang olaharaga, kenapa harus kolusi? Kenapa harus nepotisme? Kenapa harus suap? Kenapa harus korupsi ? Ayo… Bangkitlah sepakbola Indonesia. (Kamaluddin Pane)