Berastagi, (beritasumut.com) – Infrastruktur jalan sebagai sarana transportasi di Kabupaten Karo saat ini membutuhkan perhatian khusus. Pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Sumatera Utara untuk lima tahun ke depan Effendi Simbolon-Jumiran Abdi (ESJA) jika terpilih pada 7 Maret mendatang akan meningkatkan pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi di sejumlah daerah demi mengakselerasi laju perekomian masyarakat .“Kabupaten Karo masih minim infrastruktur berupa ruas jalan, yang bisa mengurai kemacetan arus lalu lintas. Apalagi pada musim liburan maupun saat masyarakat akan merayakan hari besar keagamaannya di daerah ini sering terjadi kemacetan,” kata Cawagub Jumiran Abdi didampingi Wakil Ketua DPD PDIP Sumut Taufan Agung Ginting usai membagikan bingkisan Natal yang diberikan Effendi Simbolon kepada sekira 200 pendeta se Kabupaten Karo pada perayaan Natal Persekutuan Hamba-Hamba Tuhan Kabupaten Karo di Mikie Holiday, Berastagi, belum lama ini.Menurut Jumiran, Provinsi Sumatera Utara diharapkan segera memiliki jalur alternatif menuju kawasan Berastagi, Kabupaten Karo, untuk menghindari kemacetan maupun tanah longsor yang kerap terjadi.Cawagub nomor urut 2 ini menuturkan warga yang ingin berwisata atau keperluan lain ke Kabupaten Karo umumnya hanya menggunakan jalur Pancurbatu, Sembahe, Sibolangit, dan berakhir di Berastagi. Demikian juga sebaliknya dengan para petani yang ingin menjual dan mengekspor buah dan sayur hasil kebunnya ke wilayah lain."Kemacetan di sini karena tidak seimbangnya jumlah kenderaan dengan luas atau lebar jalan," sebut Jumiran Abdi yang juga ikut merasakan kemacetan tersebut selama beberapa jam saat menuju Berastagi.Menurutnya, dampak kemacetan ini tentunya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat pengguna jalan, namun bagi petani Kabupaten Karo kehilangan waktu satu jam di jalan tentunya sangat merugikan. "Satu jam terlambat maka akan berkurang pendapatan/penjualan mereka di pasar nanti," sebut Jumiran Abdi yang ikut merasa prihatin terhadap kemacetan ini.Jika kemacetan tidak segera diatasi, sebut Jumiran, tentunya para petani akan kalah bersaing dengan yang lainnya karena kalah start. Akibatnya, kerugian berlipat ganda. Selain itu, panas akibat akumulasi kendaraan juga menyebabkan sayur atau buah menjadi layu.“Jika jumlahnya sedikit itu tidak masalah, tetapi bagaimana jika semua sayur dan buah yang dipanen menjadi layu hanya gara-gara macet, tentunya pasar tidak akan menerima sayur dan buah yang layu, itu berarti kerugian ada di depan mata para petani. Bisa dibayangkan bagaimana jika petani yang mengalami hal ini, banyak sekali kerugian yang akan di derita akibat kemacetan ini,” tandasnya. (BS-001)