Cagub Sumut Harus Hindari Diskriminasi Daerah

Redaksi - Rabu, 02 Januari 2013 18:25 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir012013/beritasumut_Arifin Siregar.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Google
Medan, (beritasumut.com) – Para Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Sumatera Utara dan tim sukses diminta tidak melakukan diskriminasi (pembeda-bedaan) terhadap daerah tingkat dua yang ada di Sumut. Ini terkait dengan masih terjadinya penganaktirian dan penganakemasan terhadap daerah yang dijadikan sasaran kunjungan atau lokasi sosialisasi.“Ada beberapa daerah tingkat dua yang sering dikunjungi, tapi justru masih ada juga daerah yang belum pernah dikunjungi para calon. Ini namanya diskriminasi daerah dan kita minta para cagub dan cawagub menghindarinya,” cetus Pengamat Politik Pembangunan dari Fisip UMSU Arifin Saleh Siregar MSP di Medan, Rabu (02/01/2012).Menurut Arifin, secara politik memang sah-sah saja jika ada isitilah daerah potensial, lumbung suara dan sejenisnya, tapi jika ini ditonjolkan maka di sisi lain akan menyebabkan sebagian warga tersakiti. Masyarakat yang ada di daerah terpencil dengan jumlah suara yang tergolong sedikit akan merasa ditinggalkan dan tidak dianggap ”apa-apa” dalam kancah Pilgub Sumut ini.Beberapa daerah tingkat dua yang jarang mendapat kunjungan dari para Cagub-Cawagub Sumut dibanding daerah lainnya, dalam catatan Arifin Saleh di antaranya Pakpak Bharat, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat. “Secara tidak langsung para Cagub-Cawagub Sumut sudah melakukan diskriminasi daerah, karena ada daerah yang sering dikunjungi dan ada justru yang hanya sekali atau dua kali dikunjungi. Kalau ini terus berlangsung bisa-bisa ketika nantinya terpilih, si calon juga akan melakukan diskriminasi pembangunan dengan menomorsekiankan daerah yang jarang dikunjungi itu,” lanjut Arifin.Di sisi lain, Arifin berharap masyarakat di daerah tingkat dua yang jarang didatangi calon agar tetap kritis dan jangan sampai salah memilih gubernur. “Cara paling gampang, lihat dulu pasangan calon mana yang paling sering datang ke daerah itu. Semakin sering datang berarti si calon memang peduli terhadap daerah tersebut. Kalau si calon tidak pernah datang maka itu harus dijadikan acuan bahwa si calon juga tidak peduli. Jadi untuk apa dipilih,” tandas Arifin. (BS-001)


Tag:

Berita Terkait

Berita

Golkar Menang 4 Pilkada di Sumut

Berita

PKB Menang 7 Pilkada di Sumut

Berita

Demokrat Menang 9 Pilkada di Sumut

Berita

Ini Nama-nama Pemenang Pilkada di Sumut

Berita

Camat Pinang Sori Instruksikan Kades/Lurah Pilih Nomor 5

Berita

ESJA Bawa Gerobak Paten ke MK