Beritasumut.com-Kritikan tajam terkait buruknya sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Medan berujung dengan aksi teror yang diterima anggota DPRD Medan Rajudin Sagala. Anggota DPRD Medan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mendapat telepon dari orang tidak dikenal yang mengancam dirinya juga keluarganya."Benar Rabu kemarin sekitar pukul 11 lewat saya mendapat telepon dari nomor pribadi. Sudah kebiasaan saya siapapun yang menelpon saya angkat walau nomor tidak dikenal. Begitu saya ucapakan asalamualaikum, dia tidak menjawab dan langsung mengatakan, hebat kali ya kau urusi PPDB itu. Kau urusi saja dirimu sendiri. Mau panjang enggak hidupmu. Nanti kami karungi, kami buang ke Bandar Baru," ujar Rajudin Sagala, Sabtu (30/07/2016).Dikatakan Rajudin, oknum tidak dikenal itu diduga marah karena dirinya mengkritisi terkait buruknya PPDB di Kota Medan. Bahkan menurut Rajudin PPDB kali ini lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya. Dijelaskan Rajudin sistem penerimaan baru dengan sistem 70 persen NEM, 20 persen bina lingkungan dan 10 persen siswa miskin tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini dibuktikan tidak transfarannya penerimaan siswa baru dengan sistem tersebut. Pengumuman penerimaan siswa baru tidak diumumkan secara terbuka. "Karena pengumumannya tidak terbuka kita tidak tau siap-siapa yang benar-benar lulus. Apakah dia lulus karena NEM, apa lulus karena ujian. Karena kita jumpai ada siswa yang NEM nya 100 tapi tidak lulus di SMA3. Ada juga yang NEMnya 97 juga tidak lulus. Jadi kita bingung aturan yang bagaimana yang berlaku. Padahal kalau NEM-nya tinggi sudah pasti lulus tinggal berdasarkan ujian untuk menentukan kelas unggulan," ujar Rajudin.Dikatakan Rajudin saat ini dirinya dan juga Komisi B sedangkan mengumpulkan bukti-bukti tambahan yang selanjutnya akan dibahas di dalam raoat. Saat disinggung soal dugaan adanya keterlibatan anggota dewan dalam kecurangan PPDB Rajudin enggan berkomentar."Kalau soal anggota DPRD yang terlibat saya belum punya bukti. Kalau soal siswa yang nem 100 tadi berani saya katakan karena memang sudah ada bukti. Intinya kita ingin dunia pendidikan di Kota Medan lebih saja," pungkasnya.(BS03)