Beritasumut.com-Masalah gizi terbagi menjadi dua yaitu, secara langsung yang dipengaruhi oleh faktor konsumsi makanan dan penyakit infeksi, dan secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan dan konsumsi pangan beragam, sosial ekonomi, budaya, dan politik.
Dilansir dari laman resmi depkes.go.id, masalah gizi yang terus terjadi tentunya dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional sehingga investasi gizi dalam hal ini sangat diperlukan untuk memutus lingkaran masalah yang pada jangka panjang akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia.
Perbaikan gizi menjadi salah satu isu penting dalam RPJMN 2015-2019. Upaya perbaikan gizi di Indonesia membutuhkan percepatan dengan melibatkan seluruh sektor. Melalui Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013, dibangun sebuah Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK) yang mengedepankan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi untuk percepatan perbaikan gizi masyarakat dengan prioritas pada 1000 HPK.
"Oleh karena itu, kesehatan anak menjadi faktor yang sangat menentukan. Semua sektor harus terlibat dalam mempersiapkan anak yang sehat dan berkualitas.Dalam upaya meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, dilakukan dengan pendekatan Continuum of Care yang dimulai sejak masa pra-hamil, hamil, bersalin dan nifas, bayi, balita, hingga remaja (pria dan wanita usia subur)," papar Menteri Kesehatan RI Prof Dr dr Nila Farid Moeloek SpM(K), Rabu (27/07/2016).(BS02)