Petani KJA Silalahi Resah, Kadiskanla Sumut Malah Minta Bersabar

Redaksi - Sabtu, 11 Juni 2016 16:29 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir062016/beritasumut_Petani-KJA-Silalahi-Resah--Kadiskanla-Sumut-Malah-Minta-Bersabar.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Beritasumut.com/BS03
Ikan mati di Danau Toba

Beritasumut.com-Buntut dari kematian ratusan ton ikan keramba jaring apung (KJA) di Desa Silalahi dan Paropo beberapa waktu menyisakan kekhawatiran bagi para petani. Mereka enggan menabur benih ikan karena hingga saat ini hasil Laboratoium untuk mengetahui penyebab kematian mendadak ikan-ikan tersebut belum juga keluar.

Ironisnya sangat dipertanyakan terkait langkah pemerintah untuk menjawab keresahan ini, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Sumatera Utara (Sumut), Jhonny Waldi, malah menanggapi dingin. Bukannya malah memberikan solusi kepada petani, Jhonny malah meminta petani untuk bersabar.

"Hasil Lab dari Jakarta belum keluar. Profesor langsung yang membawanya untuk diteliti di Kementrian. Ya kalau mau jelas penyebabnya kita tunggulah hasil penelitiannya. Penelitian ini tidak cukup satu atau dua hari," ujar Jhonny kepada wartawan, Jumat (10/06/2016). Namun saat disinggung soal minimnya kepedulian pemerintah terhadap para petani, Jhonny kembali angkat suara. Menurutnya petani tidak perlu khawatir menebar benih ikan, meskipun hasil laboraturium belum keluar. Hanya saja saat menjelaskan ini, Jhony terlihat sedikit ragu. Kemungkinan besar dirinya takut dimintai pertanggungjawaban jika suatu saat kematian ikan-ikan itu kembali terjadi.

"Ya kalau sesuai aturan seperti tidak padat tebar saya pikir tidak perlu khawatir. Karena selama ini kita lihat satu keramba itu dimasukan benih diatas 5000 ekor itu sudah melebihi kapasitas yang dianjurkan. Makanya banyak ikan yang kekurangan oksigen,'ujar Jhonny.

Selain itu, Jhonny juga mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang dari pernyataan sebelumnya saat diwawancarai persoalan kematian ikan di Silalahi beberapa waktu lalu. Sebelumnya, meskipun masih dugaan sementara Jhonny mengaku kalau kematian ikan di Silalahi disebabkan tingginya kadar belerang di perairan sekitar keramba. Saat itu Jhonny mengaku kalau kematian ikan tidak berkaitan dengan kekurangan oksigen atau padat tebar. Menurut Jhonny berdasarkan pemeriksaan timnya oksigen terlarut yakni 3ppm.

Seperti ketahui Para petani ikan KJA di Desa Silalahi dan Paropo, menanti hasil ataupun informasi penyebab kematian ratusan ton ikan nila dan ikan mas terjadi beberapa waktu lalu di daerah itu. Kini para petani KJA enggan menabur benih ikan.

"Para petani KJA di sana, hingga saat ini musibah kejadian luar biasa (KLB) hingga kini belum terjawab," kata sejumlah petani KJA Armes Sidebang (41) serta Rudy Sidebang (43) penduduk Desa Silalahi I saat menerima kunjungan Ketua Komisi B DPRD Dairi Rukyatno Naingggolan, Selasa (7/6) di Silalahi.

Ketidakpastian itu membuat warga enggan menabur benih. Sebagian besar kotak masih kosong. Rudy Sidebang menjelaskan, petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kabid Perikanan Dinas Pertanian Lamhot Silalahi sudah mengambil sampel. Hasilnya, masih mengambang. "Ketika petugas butuh data, petani bolak-balik ditelepon. Sesudah disajikan, ditelepon pun tak diangkat," ungkap Rudy. (BS03)


Tag:

Berita Terkait

Berita

Andalkan Transisi Cepat, PSMS Incar Kemenangan di Markas PSPS

Berita

Gerebek Rumah Lapak Narkoba, Polresta dan BNNK Deli Serdang Amankan Seorang Pengedar

Berita

Juni-September 2026, BNNP Sumut Ungkap 10 Kasus

Berita

Belasan Siswa SDN 060870 Medan Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Berita

Dua Penumpang Pesawat Gagal Selundupkan Sabu dari Kualanamu ke Kendari

Berita

LPA Deli Serdang: Perdamaian Bukan Akhir Penanganan, Pemulihan Anak Harus Dipastikan