Beritasumut.com - Acara debat kandidat Pilkada Medan, di City Hall Hotel Grand Aston, Medan, berlangsung seru, Sabtu (10/10/2015) sore. Kedua pasangan calon (Paslon), Dzulmi Eldin-Akhyar Nasution (BENAR) Nomor Urut 1 dan Ramadhan Pohan-Eddie Kusuma (REDI) Nomor Urut 2, menyampaikan visi misi dan saling serang soal visi misi.
Dipandu moderator Ahmad Taufan Damanik, masing-masing paslon diberi waktu menyampaikan visi misinya selama empat menit. Sementara untuk panelis, ada enam orang yakni Saad Afifuddin, Syawal Gultom, Ida Yustina, Saidur Rahman, Marzuki dan Taufan sendiri.
"Kami beri kesempatan menyampaikan visi misi masing-masing 4 menit, kita beri 3 pertanyaan yang harus dijawab 3 menit tiap-tiap paslon dan tanya jawab dimana salah satu paslon bertanya 1 menit dan dijawab lawan 3 menit serta komentar atas jawaban 2 menit. Yang terakhir adalah pernyataan penutup," ujar Taufan dalam acara yang berdurasi lebih kurang 1,5 jam.
Secara umum, kedua paslon menyampaikan visi misi dan program kerja sebagaimana tertera pada materi kampanye. Diantaranya membawa perubahan Kota Medan, perbaikan infrastruktur, birokrasi dan pelayanan publik. Pada sesi pertama ini, suasana debat sudah memanas karena para pendukung sudah memadati ruangan.
Sementara pada sesi berikutnya, moderator menyampaikan pertanyaan tentang program unggulan lima tahun ke depan sebagai penjabaran dari visi misi masing-masing kandidat. Suasana di dalam ruangan masih ramai teriakan yel-yel dari kedua pendukung. Namun moderator segera menenangkan massa agar pemaparan kandidat bisa didengar dan dicermati dengan baik.
"Program unggulan kita adalah perbaikan dalam hal pengurusan administrasi kependudukan, perizinan investasi, sarana dan prasarana dan menciptakan birokrasi yang kredibel," ujar Ramadhan Pohan yang diberi kesempatam menjawab pertanyaan pertama panelis.
Sementara pasangan BENAR, menyebutkan perbaikan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, pengelolaan sampah, transparansi anggaran, smarta city dan go green.
"Pengelolaan anggaran akan transparan dengan sistem elektronik atau e budgeting dan sistem terbuka lainnya," kata Eldin.
Pertanyaan kedua disampaikan moderator di tengah riuh suara pendukung kedua paslon. Kali ini panelis memberikan soal terkait pembenahan birokrasi. Kkandidat diminta menyampaikan strategi umum dalam rangka mencapainya.
"Yang jelas perbaikan kinerja aparatur birokrasi. Penyempurnaan struktur dari mulai kecamatan sampai kelurahan, peningkatan salary (gaji) serta ukuran bagi kualitas kerja para pegawai. Baru setelah itu kita terapkan sistem pemberian hukuman dan penghargaan (reward and punishmen)," kata Eldin yang juga menjelaskan tentang peran inspektorat dalam pengawasan aparatur.
Akhyar menambahkan, revolusi mental sebagaimana slogan Jokowi dalam kampanye pilpres lalu, harus ditularkan ke Medan. Sehingga aparatur pemerintah benar-benar bekerja keras mengabdi untuk kepentingan rakyat.
"Kami bertekad, menempatkan birokrat sesuai dengan pendidikannya. Ini bisa dicatat oleh seluruh warga Kota Medan," sebutnya.
Sedangkan Eddie Kusuma menyampaikan dua hal yang bisa memperbaiki birokrasi pemerintahan di Medan yakni kemudahan dan pemerataan pelayanan publik, seperti pelimpahan wewenang ke kecamatan.
Menurutnya warga Medan Utara tidak harus mengurus administrasi kependudukan ke Disdukcapil. Namun calon wakil wali kota ini, salah menyebutkan nama, yaitu Jakarta Utara dan disambut teriakan pendukung lain.
"Bagaimana di tingkat kecamatan bisa melayani dan kelurahan semua dilengkapi komputerisasi. Menempatkan pejabat melalui lelang jabatan dan fit and proper test," katanya.
Ramadhan kembali menambahkan penekanannya kepada reward and punishment bagi seluruh aparatur pemerintah kota (Pemko) Medan.
"Medan tidak membutuhkan superman, tetapi super tim. Jadi yang kinerjanya baik, akan ada penghargaan. Dan yang tidak baik, akan ada sanksi," sebutnya.
Memasuki pertanyaan ketiga, persaingan keduanya semakin terlihat. Pada satu sisi, pasangan REDI menjanjikan perubahan yang lebih baik, sedangkan pasangan BENAR menyampaikan bukti prestasi Pemko Medan di bawah kepemimpinan Eldin periode lalu.
Pada pertanyaan ketiga, kedua paslon diminta menyampaikan pandangannya menghadapi pluralisme atau keberagaman baik suku dan agama di Kota Medan.
"Perbedaan ini harus kita kemas, melalui toleransi agar dijadikan kekuatan sama-sama memajukan Medan yang lebih baik, cerdas, bukan konvensional. Seperti pelayanan berbasis kejujuran dan keadilan," kata Eddie.
Ditambahkan Ramadhan, pihaknya merupakan bukti keberagaman Medan. Sirinya dan pasangannya berbeda suku dan agama. Namun dalam hal ini, ia menakankan agar tidak ada tindakan diskriminatif bagi warga. Sebab setiap orang, katanya, harus dihargai.
"Dalam birokrasi, tidak boleh diskriminasi, baik pendidikan, ekonomi dan jabatan birorasi. Ini tidak boleh terjadi, harus kita ubah. Perubahan itu nyata," tambahnya.
Sementara pasangan BENAR, menegaskan faktanya selama ini, kerukunan dari keberagaman dapat dirasakan seluruh elemen masyarakat. Warga yang berbeda latar belakang, suku, budaya dan agama, dapat hidup berdampingan dalam kemesraan dan damai. Hal ini akan dipertahankan sebagai sebuah ciri.
"Salah satu pilar kebhinekaan disini adalah Forum Kerukunan Umat Beragama di Medan. Banyak negara tetangga belajar kerukunan ke kita. Termasuk pembinaan seni budaya, beri kesempatan sebulan sekali, semua suku untuk tampil di Lapangan Merdeka menampilkan seninya masing-masing," sebut Akhyar sembari mengatakan akan memasukkan muatan lokal ke dalam kurikulum sekolah.
"Medan itu khas sendiri, berbeda dengan kota lain di Indonesia, punya bahasa khas. Kita akan membangun kota ini oleh orang Medan sendiri, tidak perlu mengundang orang dari luar. Karena dia yang menyelami pluralisme di Medan," jelas Eldin.
Pada sesi akhir, kedua paslon saling melontar pertanyaan, menjawab dan mengomentari jawaban lawannya. Eldin-Akhyar diberi kesempatan pertama kali bertanya. Kali ini, Akhyar meminta penjelasan tentang wacana meningkatkan pendapatan transfer (anggaran) dua kali lipat dari pemerintah pusat, bagaimana caranya. Sebab menurutnya, untuk Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pusat, sudah ada formulanya diatur undang-undang.
"Banyak cara menaikkan PAD (pendapatan asli daerah) melalui iklim investasi, karena kepercayaan pengusaha kepada pemerintah saat ini rendah sekali. Bagaimana kutipan dan kebocoran tidak ada lagi. Ada juga pajak reklame, kenapa realisasinya nol. Kemudian, bermanfaat juga saya dulu di DPR RI, saya cukup dikenal di dewan guna mengusahakan alokasi dari pusat," kata Ramadhan ditambah jawaban Eddie yang menyebutkan wali kota harus punya wawasan dan jaringan yang baik, dikemas dalam perencanaan besar (APBD) serta komunikasi intens dapat membantu dengan pola jemput bola.
Namun jawaban tersebut mendapat komentar berbeda dari Eldin. Sebagai orang yang sudah punya pengalaman di eksekutif, ia menjelaskan bahwa permintaan peningkatan alokasi anggaran ke pusat, tidak dipenuhi, bahkan dikurangi. Namun pengurangan itu lebih dikarenakan adanya peningkatan PAD, sehingga Medan mendapat nilai lebih baik soal penerimaan.
"Saya sudah alami, kita melakukannya ke pemerintah pusat, tetapi malah transfer berkurang, karena PAD kita meningkat lebih baik. Jadi itu sudah kita lakukan," terangnya.
Sementara dari pasangan REDI, lebih mengarah kepada kinerja Eldin selama masih menjabat Plt Wali Kota dan Wali Kota Medan sejak 15 Mei 2013-26 Juli 2015. Dimana masih banyak infrastruktur yang kurang baik seperti jalan, banjir, sampah, keberadaan gedung hingga pedagang pasar induk yang harusnya diajak berdialog.
"Jalan berlubang itu jalan provinsi, itu bukan kewenangan kita. Harus ada pemahaman, ini yang tidak bisa kita koordinasikan menyeluruh. Sedangkan pedagang, kita harus bisa menatanya. Saya sudah sampaikan itu kepada DPRD, bahwa fasilitas itu (pasar induk) sudah ada, kita harapkan pedagang pindah. Dan itu bukan kemauan saya, itu permintaan DPRD Medan," tegas Eldin.
Dikatakannya di kawasan Jalan Sutomo, ada ribuan pedagang yang berjualan. Namun pada dasarnya, jalan bukan merupakan lokasi perdagangan yang tepat. Termasuk pada pedagang yang tetap ngotot bertahan, hanya berjumlah 200-an yang tidak ingin dipindahkan di lokasi baru.
"Kita sudah sampaikan, kalau yang 200 ini tidak mau di Lau Cih (pasar induk), kita sudah siapkan di Denai untuk 300 pedagang," terangnya.
Sementara Ramadhan memberi komentar, jalan provinsi harus bisa dikomunikasikan kepada pemerintah provinsi. Tidak perlu alasan menyalahkan yang lain. Selain itu, mereka juga menuturkan, pedagang di pasat induk pindah karena tidak beruntung.
"Harusnya pedagang diajak bicara. Ke depan pemimpin itu harus dekat dengan rakyat dan harus berada ditengah rakyat," sebut Ramadhan.
Di akhir debat, kedua pasangan diberikan kesempatan menyampaikan pernyataan penutup atau closing statement. Dari kubu REDI, Ramadhan menyebutkan kata perubahan sebanyak tiga kali, ditambah janji berkantor di Medan Utara selama satu hari dalam sepekan.
"Kata penting bagi warga Medan adalah perubahan, perubahan, perubahan. Medan Utara akan merasakan manfaatnya langsung. Dalam satu pekan, saya akan berkantor di Medan Utara. Kita harus bangkit untuk Medan Hebat," kata Ramadhan dan Eddie.
Sedangkan dari kubu BENAR, closing statement disampaikan Eldin dan Akhyar soal pembangunan Medan Utara yang sudah berjalan seperti pembangunan tanggul rob ditarget pada 2016 dan Islamic Centre.
"Yang jelas pilihlah yang BENAR," kata Eldin penutup debat kandidat. (BS-001)