Beritasumut.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi), mengatakan sebagai negara berdaulat, sejatinya kita saat ini sedang “perang”. Bukan perang fisik seperti yang dilakukan oleh para pahlawan pejuang kemerdekaan tetapi perang untuk memenangi perdamaian, kesejahteraan, dan kehidupan rakyat yang bahagia.
Kemenangan perang untuk memuliakan rakyat tersebut hanya akan terwujud kalau seluruh elemen dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) khususnya lembaga negara, bersatu padu dan tidak terjebak pada ego masing-masing.
“Secara bersama-sama kita perkuat kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan. Trisakti harus menjadi strategi utama dalam membendung upaya-upaya bangsa lain untuk merongrong kedaulatan, kesejahteraan, dan karakter bangsa Indonesia,” ujar Jokowi dalam sidang paripurna yang dipimpin oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (14/8/2015) pagi, seperti dilansir situs resmi Setkab RI.
Menurut Presiden, melihat modal sosial dan ekonomi yang dimiliki, peluang Indonesia untuk menjadi negara maju dan sejahtera sebenarnya terbuka lebar. Ia juga menyebutkan, Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang besar dan kreatif, kelas menengah yang semakin besar, sistem politik yang demokratis, masyarakat Muslim yang moderat, dan menjadi kekuatan ekonomi ke-16 di dunia dengan Pendapatan Produk Domestik Bruto sekitar Rp10 ribu triliun.
“Dengan kerja keras, optimisme, dan mengubah sikap konsumtif menjadi produktif, kita akan bermartabat di antara bangsa-bangsa di dunia,” kata Kepala Negara.
Namun Jokowi mengingatkan, percepatan untuk menjadi negara adil dan makmur tersebut, memerlukan dukungan seluruh rakyat Indonesia, dan sangat ditentukan oleh kinerja dan kekompakan lembaga negara.
“Kekompakan tersebut juga akan memperkuat sistem presidensial sehingga pemerintahan menjadi stabil. Dengan demikian, pemerintah akan mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social,” kata Jokowi.
Dalam pidatonya, Presiden juga menyampaikan, bahwa sejak Kabinet Kerja dibentuk, pemerintah secara bertahap menjalankan program pembangunan nasional seperti digariskan dalam Nawacita. Pemerintah melakukan transformasi fundamental ekonomi dan mengubah paradigma pembangunan dari yang bersifat konsumtif ke produktif.
Jokowi juga menyebutkan, untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi, selain mendorong berkembangnya ekonomi kreatif, Pemerintah fokus melakukan pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, jalur kereta api, pelabuhan, waduk, dan pembangkit listrik. Pemerintah juga mengalihkan subsidi BBM ke sektor-sektor produktif dan jaring pengaman sosial.
“Kini pemerintah sedang membagikan Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Keluarga Sejahtera, dan Asistensi Sosial untuk Penyandang Disabilitas Berat,” papar Presiden.
Sidang paripurna MPR RI itu juga dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Presiden BJ Habibie, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden Hamzah Has, mantan Wakil Presiden Boediono, pimpinan lembaga negara, Menteri Kabinet Kerja, dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK). (BS-001)