Beritasumut.com - Jelang pelaksanaan Kongres PDI Perjuangan di Bali, April mendatang, PDI Perjuangan di Sumatera Utara (Sumut) menyampaikan komitmen untuk mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai satu-satunya calon Ketua Umum (Ketum) untuk lima tahun ke depan.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Sumut Japorman Saragih menyatakan komitmen mereka untuk Megawati, sesuai hasil keputusan rapat pimpinan nasional (Rapimnas) lalu. Sebagaimana dideklarasikan bahwa sebagian besar pengurus dan kader konsisten mengusung mantan Presiden RI yang kelima itu.
"Kita tetap komitmen untuk Ibu Megawati, sesuai hasil putusan Rapimnas lalu dan sudah dideklarasikan bahwa untuk melanjutkan kepemimpinan ini, kita tetap konsisten kepada ibu Megawati," ujar Japorman, Kamis (26/3/2015).
Dirinya pun mengklaim seluruh pengurus dan kader di kabupaten/kota se-Sumut juga sudah menyatakan komitmennya kembali mengusung Megawati. Sedangkan untuk wacana nama lain yakni Jokowi yang tidak lain adalah Presiden RI saat ini, sebagai tokoh yang kemudian disebut memiliki kans untuk menjadi Ketum, Japorman membantah tegas hal itu.
"Itu tidak ada, itu kan hanya segelintir orang. Artinya mengapa berbicara soal kepemimpinan lagi. Padahal kan sudah jelas dideklarasikan di Semarang, bahwa untuk ketum, tetap Ibu Megawati, lima tahun kedepan," sebutnya.
Menanggapi adanya wacana operasi senyap (silent operation) yang bisa menggoyang soliditas partai, Japorman juga ingin memastikan bahwa tidak ada komitmen lain selain untuk Megawati. Meskipun sejumlah partai lain, sedang didera konflik.
"Nggak nggak, saya pikir nggak. Artinya kader tetap komit untuk Ibu megawati," katanya.
Menurut Pengamat Politik Rudi Rajali Samosir, PDIP masih identik dengan "rohnya" Soekarno yang kemudian dianggap turunannya adalah Megawati. Sehingga pola pandangnya tetap mengacu pada keluarga atau keturunan Presiden RI pertama.
"Karena PDI Perjuangan masih dipandang sebagai rohnya Soekarno, yaitu Megawati. Sehingga pola pandangnya masih harus keturunan," sebutnya.
Sementara untuk popularitas Jokowi yand disebut bisa menyaingi Megawati, hal itu dikatakannya belum mampu menepis dogma basis PDI Perjuangan tentang kebesaran nama Soekarno. Selain itu, status Jokowi di partai masih sebatas kader dan tidak menduduki posisi strategis untuk bisa menjadi pemimpin partai.
"Kalau di internal partai, Jokowi masih hanya sebatas kader. Tetapi mungkin transisinya di periode ini, tidak tahu bagaimana berikutnya. Bisa jadi wacana Soekarnois tidak lagi dipahami hanya sebatas keturunan oleh basis PDI Perjuangan, melainkan pemikiran dan paham politik," pungkasnya. (BS-035)