Medan, (beritasumut.com) – Sebanyak 18 dari 26 guru yang mengajar di SMP Negeri 44, Jalan Chaidir, Kelurahan Nelayan Indah, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan menuntut agar kepala sekolah mereka segera dimutasi.
Selain dinilai arogan, oknum kepala sekolah (Kepsek) juga dituduh sering melakukan pemecatan terhadap guru dan tata usaha. Kondisi itu menyebabkan para guru resah sehingga merasa tidak nyaman lagi mengajar di SMPN 44.
Demikian terungkap saat pertemuan 5 orang perwakilan guru SMPN 44 dengan Kadis Pendidikan Kota Medan Marasutan Siregar didampingi Sekretaris Ramlan Tarigan di Balaikota Medan, Jalan Maulana Lubis, Medan, Rabu (21/5/2014). Jika kepala sekolah tidak segera dimutasi, mereka sepakat untuk pindah dari SMPN 44.
Sebelum bertemu dengan Kadis Pendidikan, kelima orang guru yakni Vetronella Namolaita, Meliana Nasution, Suriani Situmorang dan Hasmidah lebih dulu mengadukan persoalan yang mereka alami kepada sejumlah wartawan di Bagian Humas Setda Kota Medan. Mereka mengaku sejak Asmiati menjabat sebagai Kepala SMPN 44, proses belajar mengajar tidak kondusif.
Dalam pertemuan dengan Kadis Pendidikan, Vetronella Namolaita mengaku saat ini dirinya merasa tidak nyaman lagi mengajar di SMPN 44 sejak kepemimpinan Asmiati. Meski keluhan ini telah disampaikan namun tidak ada tindakan yang jelas dari Dinas Pendidikan Kota Medan. Untuk itu guru pindahan dari Ambon ini minta persoalan di SMPN 44 segera dituntaskan.
Ungkapan hampir senada disampaikan Meliana Nasution. Sebagai guru yang sudah lama mengajar di SMPN 44, dia mengatakan tidak pernah sekalipun kepsek bersikap seperti Asmiatai saat ini. Kondisi itu membuatnya merasa tertekan dan tidak tahan lagi untuk mengajar di SMPN 44. “Jadi kami minta kepsek segera dimutasi,” tegas Meliana.
Suriani Situmorang juga menyampaikan keluhan terkait kepemimpinan Asmiati. Selain dinilai bersikap arogan, kepsek juga meminta murid untuk membuat surat angket berisikan nama dua guru yang tidak disukai. Tindakan itu dinilainya tidak pantas dilakukan oleh seorang kepala sekolah. Sudah itu setiap kali berpapasan dengan guru, kepsek tak mau menegur ataupun menyapa. Karena itulah dia maupun guru-guru yang lain merasa tidak bisa bekerjasama lagi dengan kepala sekolah.
Pernyataan Suriani dikuatkan Hasmidah. Dia meminta kepsek segera dimutasi, sebab proses belajar mengajar di SMPN 44 saat ini tidak kondusif.
“Dengan sikap kepsek seperti itu, bagaimana kami para guru bisa nyaman mengajar. Kami tidak ingin para murid menjadi korban. Untuk itu kami minta kepsek segera dimutasi,” ungkap Hasmidah.
Ditambahkannya lagi, sikap kepsek membuat para guru di SMPN 44 telah membuat surat pernyataan agar kepsek mereka segera dimutasi. Dari 26 guru yang mengajar di tempat itu, sebanyak 18 orang diantaranya telah menandatangani surat pernyataan menuntut agar kepsek segera dimutasi.
“Apabila kepsek tidak diganti, maka kami yang akan pindah dari SMP Negeri 44,” teriak kelima guru serempak.
Menanggapi keluhan kelima guru tersebut, Kadis Pendidikan Kota Medan Marasutan Siregar didampingi Sekretaris Ramlan Tarigan dan Kabid Pra Pendidikan Dasar Syahrial berjanji segera menuntaskan apa yang menjadi keluhan para guru.
Dia mengaku persoalan di SMPN 44 sudah bertingkat-tingkat, satu diselesaikan muncul persoalan baru. Kondisi itu membuat dirinya sudah berulangkali datang untuk menyelsaikan masalah.
“Jadi tolong beri kesempatan kepada kami untuk menelusuri persoalan ini, saya berjanji segera menyelesaikannya. Untuk itu saya minta kepada ibu-ibu guru untuk mengajar kembali seperti biasa. Rabu (28/5/2014), saya akan datang ke SMP Negeri 44 sehingga kita bisa bicara langsung dengan kepala sekolah. Saya tidak mau hanya menerima pengaduan sepihak. Saya ini bekas guru, jadi saya tahu apa yang ibu-ibu rasakan saat ini. Yang pasti saya tidak berpihak kepada siapapun,” jelas Marasutan. (BS-001)