Medan, (beritasumut.com) – Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemko Medan kembali menjadi sorotan akibat kinerja yang belum maksimal, padahal anggaran yang dimiliki sangat fantantis dengan berbagai program.
Seperti halnya Dinas Pertamanan Pemerintah Kota Medan yang dipimpin Zulkifli Sitepu yang hingga saat ini belum menunjukkan kinerja yang maksimal dalam perawatan lampu jalan hingga menjamurnya papan reklame.
“Kami menyampaikan turut berbelangsukawa terhadap lampu-lampu jalan yang mati di tengah Kota Medan khususnya daerah pinggiran. Fakta di lapangan hampir 60 persen lampu jalan mati yang akhirnya menimbulkan tindak kejahatan,” kata Anggota DPRD Kota Medan Ilhamsyah di Medan, Ahad (24/11/2013).
Sebut politisi Partai Golkar tersebut, seharusnya hal tersebut tidak terjadi mengingat anggaran untuk lampu jalan sangat besar yang dibebankan kepada masyarakat setiap bulannya melalui rekening listrik.
Ilhamsyah mempertanyakan penggunaan anggaran Dinas Pertamanan selama ini. Misalnya, pada Tahun 2014 pengajuan anggaran juga sangat besar dengan berbagai item, sehingga perlu dilakukan pengawasan.
“Pada Tahun 2014 untuk jasa piket lampu penerangan jalan saja sebesar Rp900 juta. Ini jelas sangat menyakitkan penduduk Kota Medan, kenapa anggaran ini tidak digunakan untuk menghidupkan lampu-lampu jalan yang rusak dan mati. Apakah anggaran piket ini nantinya benar-benar menjamin tidak ada lampu jalan mati dan ada yang piket nantinya. Kita meragukan hal itu,” kata Ilhamsyah.
Kemudian anggaran perawatan lampu berkisar antara Rp500 juta hingga Rp700 juta hingga anggaran peningkatan kualitas lampu penerangan jalan umum sebesar Rp2 miliar, juga dipertanyakan.
“Dengan anggaran sebesar itu apakah dapat menjamin lampu jalan hidup hingga ke daerah pinggiran. Kita pertanyakan, dengan anggaran itu peningkatan apa yang dilakukan oleh Dinas Pertamanan,” ucapnya.
Jangan sampai anggaran-anggaran itu mubazir dan menjadi ajang korupsi. Karena pada tahun-tahun sebelumnya anggaran untuk penerangan lampu jalan cukup besar, tapi hasilnya masyarakat tidak menikmatinya, kata Ilhamsyah.
Di sisi lain Ilhamsyah juga mendesak Dinas Pertamanan menata reklame yang semakin semrawut di Kota Medan.
“Keindahan Kota Medan sudah tidak ada lagi saat ini lihat saja kesemrawutan papan reklame terjadi. Pembongkaran tidak dilakukan pada papan reklame yang masa izinnya telah habis dan terkesan sengaja dibiarkan agar dimanfaatkan kembali,” kata Ilhamsyah yang juga mempertanyakan minimnya PAD yang didapatkan oleh Dinas Pertamanan pada Tahun 2013 dari target Rp59 miliar yang terpenuhi hanya sebesar 22 persen. (BS-001)