Medan, (beritasumut.com) – Seratusan mahasiswa IAIN, Unimed, USU, ITM, UISU, Polmed dan Sari Mutiara yang tergabung dalam gerakan mahasiswa pembebasan mendemo Konsulat Amerika Serikat di Gedung Uniland, Jalan MT Haryono, Medan, Sabtu (9/11/2013). Mereka meneriakkan perlawanan terhadap penjajah dan tindakan spionase negara teroris Amerika.
Para mahasiswa membentang berbagai spanduk dan poster sambil meneriakkan yel-yel anti Amerika yang telah melakukan spionase di Indonesia.
Di antara beberapa spanduk dan poster yang dipajangkan tersebut berbunyi, aksi damai gerakan mahasiswa pembebasan, lawan penjajah dan tindakan spionase negara teroris Amerika Serikat, mahasiswa bersatu lawan penjajah, syari’ah dan khilafah harga mati, spionase tindakan ala negara penjajah Amerika, selamatkan Indonesia dari penjajah dengan khilafah dan Amerika Serikat musuh negara merongrong NKRI.
Koordinator Aksi Gerakan Mahasiswa Pembebasan Sumut Ahyar Munawar Khalid dalam pernyataan sikapnya menegaskan, empat bulan terakhir dalam berbagai media massa internasional terungkap fakta yang menunjukkan tingkah congkak Negara penjajah Amerika Serikat (AS), yaitu strategi intelijen dengan menyadap alat komunikasi elektronik di banyak negara dunia.
“Berawal dari terungkapnya operasi intelijen AS pada awal Juli 2013 terhadap masyarakat dan Kanselir Jerman, berkembang fakta lain yang lebih menyedihkan, sebagaimana yang diberitakan oleh media terkemuka Jerman, Der Spiegel, Indonesia termasuk dalam salah satu dari 90 lokasi yang disadap, dengan titik tepatnya pada Kedutaan Besar AS di Jakarta,” ujarnya.
Terungkapnya fakta ini, kata Ahyar, harus dipandang sebagai bentuk upaya memperkuat cengkraman penjajahan tidak langsung yang dilakukan AS terhadap Indonesia di bidang tambang dan pengelolaan blok migas, AS merupakan salah satu pemain utama di Indonesia.
Tentu masyarakat sangat familiar dengan Freeport Mc Moran, perusahaan tambang yang mengelola lahan di Tembaga Pura, Timika, Papua.
Dijelaskannya, produksi tambang itu perhari mencapai 220 ribu ton biji mentah emas dan perak. Selain Freeport, masih ada Newmont, perusahaan asal Colorado Amerika, yang mengelola beberapa tambang emas dan tembaga dikawasan NTT dan NTB. Tahun lalu, setoran perusahaan ke pemerintah mencapai Rp689 miliar, sudah mencakup semua pajak dari keuntungan total mereka.
Dari NTT saja, pada 2012 pendapatan Newmont mencapai USD4,17 juta. Belum lagi sederet operator migas yang rata-rata kelas kakap sebagai mitra pemerintah mengelola blok migas. Chevron, memiliki jatah menggarap 3 blok, dan memproduksi 35% migas Indonesia. Disusul Conoco Philips yang mengelola 6 blok migas.
Perusahaan yang telah 40 tahun beroperasi di Indonesia ini merupakan produsen Migas terbesar ketiga di tanah air. Lalu, tentu saja Exxon Mobil yang bersama Pertamina menemukan sumber minyak 1,4 miliar barel dan gas 8,14 miliar kaki kubik di Cepu Jawa tengah.
Berdasarkan itu, kata Ahyar, maka gerakan mahasiswa pembebasan menegaskan, menuntut pemerintah RI segera mencabut ijin pembangunan dan menutup gedung Kedubes AS di Jakarta.
Tindakan ini harus dilakukan sebagai bukti bahwa pemerintah Indonesia memang benar-benar menjaga keamanan dan kedaulatan negeri ini. Tapi jiuka tidak dilakukan, maka hal ini menjadi bukti bahwa pemerintah telah tunduk pada tekanan negara penjajah.
Menyerukan kepada seluruh umat Islam, rakyat dan mahasiswa untuk sungguh-sungguh menolak segala bentuk penjajahan termasuk yang dilakukan AS terhadap Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya, dengan cara berjuang mewujudkan kehidupan Islami dimana didalamnya diterapkan syari’ah Islam dibawah naungan khilafah.
Keberadaan khilafah, adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar karena khilafah inilah yang menjadi satu-satunya bentang sejati bagi Umat Islam terhadap berbagai serangan yang dilakukan oleh kafir penjajah. (BS-023)