Medan, (beritasumut.com) – Seorang pemimpin tidak sekadar dituntut cerdas dalam mengeluarkan kebijakan, tetapi juga harus mampu merangkul masyarakat dalam berbagai tingkatan sosial. Kebijakan yang tidak diiringi kepedulian sosial hanya akan menimbulkan kesan populis tanpa makna.
Hal ini disebutkan Ketua Seksi Pengabdian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Simon Pramono usai menggelar penyembelihan sapi kurban di Kantor PWI Sumatera Utara, Jalan Parada Harahap, Medan, Rabu (16/10/2013). Hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur Sumut Ir H Tengku Erry Nuradi MSi dan sejumlah Pengurus PWI Sumut lainnya.
Secara tegas Simon mengatakan, PWI Sumut tidak hanya menjalankan fungsi dalam memenuhi kebutuhan informasi masyakarat luar, namun juga memberikan sumbang saran dan masukan kepada Pemerintah Provinsi Sumut dalam menentukan kebijakan.
“Kontrol sosial wajib hukumnya demi kemajuan. Tetapi PWI Sumut membudayakan kritik membangun yang disampaikan secara santun,” ujar Simon.
Simon yang menjabat sebagai Kepala Kantor Berinta Antara Sumut ini juga mengatakan, roda pemerintahan di Sumut akan timpang jika tidak menggerakkan seluruh organ diseluruh lapisan masyarakat. Apalagi hanya mengandalkan kebijakan yang tidak didukung strategi yang dapat menyentuh langsung kebutuhan masyarakat yang terus berubah tiap saat.
“Kita lihat Pak Erry memiliki kepedulian itu. Tidak membedakan strata dan tingkatan. Saran dan masukan dari mana saja diserap menjadi acuan kebijakan,” sebut Simon.
Sementara Sekretaris PWI Sumut Edu Tahrir yang juga panitia kurban PWI tahun ini menyatakan, jumlah sapi yang disembelih sebanyak empat ekor. Sebagian dari anggota PWI dan keluarganya.
“Daging kurban didistribusikan kepada kaum miskin di lingkungan Kantor PWI Sumut. Sebagian kepada keluarga dan janda wartawan,” terang Edu.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Sumut Tengku Erry Nuradi mengatakan, ibadah kurban memiliki tiga makna utama bagi umat Islam yang digelar pada Idul Adha. Pertama adalah kurban bermakna mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan berkurban manusia menyerahkan segalanya kepada Sang Khaliq dengan kesunggguhan. Seperti halnya Nabi Ibrahim yang mengikhlaskan Ismail, putra paling dicintainya untuk dikurbankan. Ini merupakan bentuk penyerahan dirinya kepada Allah.
Kedua, dengan berkurban manusia diajarkan untuk berbagi kepada mukmin lain yang kurang mampu. Allah mempunyai alasan untuk memerintahkan manusia berkurban. Dengan adanya kurban kaum muslim yang kurang mampu ikut merasakan indahnya Islam.
Ketiga, dengan berkurban keikhlasan manusia diuji dari sifat rakus dan tamak akan harta benda yang disenangi saat dunia. Kurban berarti menyerahkan apa yang kita cintai dan kita sayangi dalam bentuk harta yang kita miliki.
“Dari ketiga makna itu Allah memerintahkan manusia memiliki kepedulian kepada sesamanya. Itulah makna paling utama,” jelas Erry. (BS-001)