Tapsel, (beritasumut) – Kebijakan pemerintah pusat untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai merupakan kebijakan yang tidak pro rakyat kecil serta rentan menimbulkan permasalahan baru di tengah-tengah masyarakat saat ini yang sangat sudah terbebani dan menjadi korban dari kebijakan pemerintah selama ini yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
“Kenaikan harga BBM untuk masyarakat yang berkantong tebal ataupun pejabat yang ditanggung BBMnya dari APBN ataupun APBD, mungkin tidak menjadi permasalahan yang berarti, namun untuk masyarakat menengah ke bawah tentu akan menjadi masalah besar, sebab dengan kenaikan harga BBM maka dengan serta merta harga kebutuhan hidup juga turut naik,” ujar Wakil Ketua DPRD Tapanuli Selatan Tongku Makbul Siregar di Padangsidimpuan, Rabu (19/6/2013).
Politisi PDI Perjuangan itu selanjutnya mengatakan dengan kenaikan harga BBM maka kebutuhan pokok sandang dan pangan juga akan turut naik tidak sebanding dengan besarnya pendapatan masyarakat. “Harga BBM Rp4.500 saja pun sudah banyak masyarakat yang hidup dengan keadaan yang memprihatinkan, apalagi dengan BBM naik maka rakyat yang didominasi masyarakat miskin akan semakin miskin, sementara masyarakat menengah terimbas menjadi masyarakat miskin,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Anggota DPRD Tapanuli Selatan Ikbal Halid Siregar didampingi Anggota DPRD Harlen Daniel Lallu Panggabean yang mengatakan PDI Perjuangan sebagai partai “wong cilik” wajib mendengar dan memperjuangan aspirasi masyarakat kecil yang selama ini menjadi korban kebijakan dari pemerintah. “Seperti contoh, kebijakan konversi minyak tanah ke gas sudah menimbulkan korban nyawa akibat ‘bom’ tabung 3kg. selama ini yang menjadi korban itu adalah masyarakat kecil. Artinya, selama ini mereka sudah menderita sehingga seharusnya tidak ditambahi lagi dengan imbas dan kenaikan harga BBM,” ujarnya.
Menjawab wartawan, Ikbal berpendapat BLSM yang akan dikucurkan kepada masyarakat sejalan dengan kenaikan harga BBM tidak dapat menopang ekses yang timbul akibat naiknya harga BBM. “Namanya juga Balsem, hangatnya tentu sementara tetapi tidak menyembuhkan ‘penyakit’ yang ditimbulkan naiknya harga BBM seperti kenaikan tarif transportasi yang mendongkrak naiknya harga kebutuhan pokok, naiknya harga pupuk bagi petani, naiknya biaya melaut bagi nelayan, naiknya biaya pendidikan dan dampak lainnya dari naiknya harga BBM,” ujarnya.
Sementara di tempat terpisah Aktifis Tapsel S Togi Ritonga mengatakan kenaikan harga BBM sudah dipastikan ketukan palu Ketua DPR di Senayan setelah kubu partai pro pemerintah menang voting dalam sidang paripurna. “Semua kembali ke masyarakat, kalau masyarakat merasa kenaikan BBM itu menimbulkan sengsara maka salahkan kenapa salah memilih pemimpin dan salah memilih arus politiknya. Kalau masyarakat merasa kenaikan BBM bukan kesengsaraan, maka silahkan dilanjutkan,” tandasnya. (BS-029)