Medan, (beritasumut.com) – Mayoritas masyarakat Sumatera Utara mengakui kurang puas terhadap kinerja Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho. Hampir di semua bidang masyarakat memberikan rapor merah terhadap kinerja incumbent tersebut. Sebagian besar menilai kondisi Provinsi Sumatera Utara tidak mengalami perubahan yang sighnifikan selama dipimpin Gatot.
Anehnya, 26, 8 persen publik mengaku masih akan memilih pasangan Gatot dan Tengku Erry Nuradi dalam Pilgub Sumut, 7 Maret 2013. Ada fenomena permisifisme publik terhadap buruknya kinerja Gatot tersebut.
Penegasan itu disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Survey Nasiona (LSN) Umar S Bakry dalam paparannya terkait dengan hasil survei yang dilakukan oleh LSN dalam Pilgub Sumut kepada wartawan di Hotel Hermes, Jalan Pemuda, Medan, Sumatera Utara, Selasa (05/03/2013).
"Survei terbaru mengenai kecendrungan prilaku memilih menjelang Pilgub Sumut 2013 dilakukan 1-9 Februari 2013 di 33 Kabupaten/Kota diseluruh Sumut. Populasi dari survei LSN seluruh penduduk Sumut yang telah memiliki hak pilih. Dalam menghadapi Pilgub Sumut 2013, kami telah melakukan sebanyak 5 kali survei, dan dalam survei terbaru ini ditemukan fenomena menarik. Publik kelihatan memaafkan ketidakberhasilah Gatot. Selama memimpin Sumut. Ketika kami menanyakan kepada responden apa alasan memilih Gatot jika pilgub dilaksanakan nanti, sebagian besar mereka mengatakan karena ingin memberikan kesempatan kembali kepada Cagub yang diusung oleh PKS itu. Ini artinya masyarakat bersikap pesimis terhadap kegagalan Gatot selama memimpin Sumut," papar Umar.
Menurutnya kultur politik di Sumut agak berbeda dengan didaerah lainnya. Dengan kata lain, ada anomali perilaku memilih dalam masyarakat Sumut menjelang Pilgub Sumut 2013 ini. Tingkat ketidakpuasan sangat tinggi terhadap kinerja incumbent terutama dalam mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan pembangunan infrastruktur. Dalam tiga hal ini tingkat ketidakpuasan di atas 70 persen. Sedangkan ketidakpuasan dalam bidang reformasi birokrasi, pembinaan UKM, pelayanan publik dan perizinan, serta pembangunan sektor pertanian rata-rata di atas 60 persen. Bahkan dalam bidang kesehatan dan pendidikan yang mendapatkan alokasi anggaran cukup besar tingkat ketidakpuasan publik juga cukup tinggi yaitu di atas 55 persen.
Akan tetapi sebut Umar, ketika publik ditanya pasangan mana yang akan dipilih dalam Pilgub Sumut, Gatot yang berpasangan dengan Tengku Erry masih berada di posisi kedua. "Elektabilitas pasangan berinisial Ganteng itu terpaut tidak terlalu jauh dari pasangan Gusman yang sosialisasinya terkenal paling massif. Sebanyak 28,8 persen responden mengaku akan memilih Ganteng dan 32,3 persen responden akan memilih Gusman dan tiga pasangan lain tertinggal di bawah," ucapnya.
Dengan tingkat elektabilitas yang tinggi dibanding tiga pasangan lainnya lanjutnya, Gusman dan Ganteng berpeluang memenangkan Pilgub Sumut. Namun siapa yang akan menjadi pemuncak masih sulit diprediksi. Tingkat elektabilitas pasangan menurut hasil survei LSN ataupun lembaga survei lainnya tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memprediksi hasil Pigub Sumut.
"Sedikitnya ada lima variabel yang perlu diperhatikan dalam memprediksi hasil akhir Pilgub Sumut. Yaitu, tingkat swing voters, tingkat undecided voters, margin of error, proses maturasi atau pemantapan pilihan pasca dilakukan survei, serta tingkat partisipasi pemilih," sebutnya
Dengan tingkat swing voters sebesar 37,4 persen, undecided voters 5,7 persen, dan margin of error lebih kurang 3 persen, maka perbedaan kekuatan pasangan Gusman dan Ganteng sebenarnya sangat tipis. Dengan proses maturasi selama hampir 1 bulan dan beberapa kali debat publik, masih sangat mungkin terjadi perubahan peta kekuatan. Dengan demikian saat ini sangat sulit untuk mengatakan siapa sebenarnya yang lebih kuat dari kedua pasangan tersebut.
Sementara itu kata dia, peluang Efendi Simbolon-Jumiran Abdi, Amri Tambunan-RE Nainggolan, serta Chairuman Harahap-Fadly Nurzal untuk menjadi pemenang Pilgub Sumut tampaknya tidak sebesar peluang Gusman dan Ganteng. Namun, yang perlu digarisbawahi dalam Pilgub Sumut kali ini tidak ada pasangan yang sangat lemah seperti dalam Pilgub Jabar. Dalam Pilgub Sumut kali ini kelihatannya tidak akan ada pasangan yang memperoleh suara kurang dari 10 persen.
"Dengan konstalasi kekuatan seperti itu, meskipun kekuatan pasangan Gusman dan Ganteng berpeluang memenangkan Pilgub Sumut sangat besar, namun peluang untuk terjadi pilgub dua putaran juga sangat terbuka. Kami memprediksi, jika salah satu dari pasangan Effendi-Jumiran, Amri-RE, atau Chairuman-Fadly berhasil memperoleh suara di atas 20 persen, maka Pilgub Sumut 2013 akan berlangsung dua putaran," paparnya.
Kemudian ungkapnya, faktor lain yang perlu dicermati dan dapat mengacaukan prediksi hasil Pilgub Sumut ialah tingkat partisipasi pemilih. Jika jumlah warga Sumut yang tidak menggunakan hak pilihnya sangat besar atau di atas 30 persen, dapat saja terjadi kejutan dalam hasil akhir Pilgubs Sumut 2013.
"Melihat trend perkembangan elektabilitas dalam 5 kali survei LSN, salah satu pasangan yang mungkin dapat membuat kejutan atau menjadi kuda merah ialah pasangan Effendi-Jumiran," sebutnya. (BS-024)