Medan, (beritasumut.com) – Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap MM meninjau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun di Jalan Paluh Nibung, Kelurahan Terjung, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (14/02/2013) siang. Selain ingin melihat sejauhmana langkah-langkah yang telah dilakukan PT Agro Mulyo Abadi selaku pihak yang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan tersebut, Walikota juga ingin TPA seluas 13 hektar itu ditata dengan baik sehingga kesannya tidak kumuh dan kurang tertata.Wakil Walikota Drs H Dzulmi Eldin MSi berserta sejumlah pimpinan SKPD seperti Kadis Kebersihan Pardamean Siregar, Kadis Perumahan dan Permukiman Ir Gunawan Surya , Kadis Bina Marga Khairul Syahnan, Kabag Humasy Budi Hariono SSTP MAP dan Camat Medan Marelan Dedi Jaminsyah Putra Harahap SSTP MAP turut mendampingi Walikota dalam peninjauan tersebut.Budiman dari PT Agro Mulyo Abadi yang ditemui di lokasi menjelaskan kepada Walikota, pihaknya saat ini sedang melakukan finalisasi untuk studi karakterisasi sampah. Hal itu untuk mengetahui berapa persen kandungan sampah organik maupun non organiknya. Walaupun persen kandungan sampah organiknya sudah diketahui namun harus diurai lebih detail lagi guna mengetahui berapa persen sisa makanan, kulit buah maupun yang lainnya.Di tempat itu sejumlah pekerja baik laki-laki maupun perempuan terlihat sangat serius memilah sampah dengan menggunakan tangan telanjang. Sampah organik seperti sisa makan dengan cekatan mereka pisahkan tempatnya, begitu pula dengan sampah non organik seperti plastik maupun botol bekas air mineral.Melihat kawasan tersebut sangat gersang, Walikota selanjutnya memerintahkan Kadis Kebersihan untuk menanam pohon agar tempat itu terlihat lebih teduh dan hijau. Kemudian Kadis Bina Marga diinstruksikan untuk meratakan tumpukan yang menggunung. Selain itu jalan masuk menuju TPA harus diaspal untuk mempermudah keluar masuknya truk pengangkat sampah. “Saya ingin tempat ini lebih ditata sehingga tidak kumuh seperti saat ini,” kata Walikota.Setelah itu dengan berjalan kaki, Walikota beserta rombongan berjalan lebih kurang 500 meter dan berhenti di lokasi yang banyak terdapat kolam. Rencananya, kolam itu akan ditimbun dan diratakan pihak PT Agro Mulyo Abadi untuk selanjutnya dijadikan sebagai tempat finalisasi studi karateristik sampah. Dengan begitu truk sampah yang datang tidak lagi membuang sampah di lokasi yang selama ini dijadikan tempat pembuangan sampah tetapi di lahan yang telah diratakan tersebut.“Di sinilah dilakukan pemilihan sampah organik dan an organik. Jadi semua sampah yang dibawa truk habis dan dikelola dengan baik. Cuma saja ada sampah-sampah yang khusus dijadikan sebagai bahan bakar sampah. Jadi Senin ini rencananya alat-alat sudah masuk. Kita harapkan tahun ini sudah dapat beroperasi sesuai dengan kesepakatan kita,” jelas Walikota.Jika alat itu sudah masuk dan beroperasi, kata Walikota, maka terjadilah kekurangan sampah tersebut. Artinya, jika komposting yang dilakukan di lingkungan berjalan dengan baik, maka sampah yang datang ke TPA terjun tentunya berkurang. Dengan demikian dana yang digunakan untuk mengelola TPA selama ini tentunya akan akan jauh menurun sehingga jumlah tenaga kerja juga ikut berkurang yang pada akhirnya menghasilkan efisiensi.Selain itu, sambung Walikota, terjadinya penurunan sampah ini akan diikuti dengan pembangunan sanitasi renfil. Sebab dengan kondisi volume sampah yang ada saat ini, maka pembangunan sanitasi renfil tak mungkin dilakukan. Dengan adanya sanitasi renfil ini, maka air yang keluar dari tempat pembuangan sampah lebih bersih. “Sanitasi kita yang dibangun Dinas Tarukim Provinsi memang ada namun tidak mampu melakukannya secara maksimal,” paparnya.Kemudian Walikota mengutarakan, kunjungan yang dilakukan ini juga dilakukan untuk melakukan penataan di TPA Terjun. Hal ini tidak terlepas akan datang Tim Pantau II Adipura akhir bulan ini. Untuk itu TPA Terjun harus lebih tertata, termasuk fasilitas pendukungnya seperti jalan dan sumur pantau. Termasuk beberapa tempat penampungan barang-barang bekas, diharuskan menata lokasinya agar terlihat lebih baik.“Penataan harus kita lakukan, sebab bobot TPA nilainya harus 6 dan sama bobotnya dengan pasar sehingga sangat menentukan sekali. Untuk itu harus kita genjot sehingga poinnya dapat 7,” ungkapnya.Sementara itu menurut Budiman dari PT Agro Mulyo Abadi, sebelum PLTSa dioperasikan pihaknya lebih dulu membuat Refuse Derifed Fuel (RDF) yakni semacam bahan bakar sampah. RDF ini berasal dari sampah organik maupun non organik seperti plastik maupun streopom setelah melalui finalisasi studi karakteristik sampah. Di samping itu Budiman mengaku pihaknya akan menimbum kawasan kolam yang akan dijadikan sebagai tempat pemilahan sampah. Rencananya, Senin depan alat-alat berat akan masuk untuk melakukan penimbunan. (BS-024)