Criket Sumut Tatap Pra PON Jabar 2015

Tiket PON 2016 Dulu, Baru Medali
Redaksi - Minggu, 27 September 2015 19:05 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir092015/beritasumut_Criket-Sumut-Tatap-Pra-PON-Jabar-2015.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Istimewa
Pengurus PCI Sumut diabadikan bersama dengan tim Sri Lanka pada Open Criket Sumut di lapangan Unimed Medan.

Beritasumut.com - Sebutan Negara Criket disandangnya bukan tanpa sebab. Masyarakat India lebih akrab dengan olahraga yang berkembang pesat di kawasan Asia Selatan ini.

Criket memang akrab di negara-negara persemakmuran. Tak heran, lantaran olahraga ini mengadopsi budaya dan tradisi Bangsa Inggris. Salah satunya adalah India yang meski yang mendapatkan kemerdekaannya, tak pernah bisa melupakan kriket.

Olahraga ini telah berkembang di India sejak abad ke-19. Kala itu, kolonial Inggris tengah berkuasa penuh di India.

Saat itu, penggemar kriket di India bahkan sudah mencapai jumlah ribuan. Tak hanya terfokus pada satu wilayah, penggemar kriket tersebar di beberapa kota. Sebut saja New Delhi, Mumbai, Pune, hingga kota-kota kecil di India.

Memasuki abad ke-20 dan 21, jumlah penggemar olahraga yang menggunakan pemukul ini mencapai jutaan orang yang terdiri dari berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, hingga orangtua.

Begitu lekatnya Negeri Barata ini dengan Criket, India pernah beberapa kali menjadi tuan rumah pertandingan bertaraf internasional. Sepak bola yang digadang-gadang merupakan olahraga paling populer di dunia, hanya mampu menempati urutan kedua di hati masyarakat India.

Begitu agungnya criket di mata masyarakat India, hingga salah seorang pemain legendanya disamakan dengan Tuhan. Adalah Sachin Tendulkar, pemain criket India yang begitu tersohor.

Diakui atau tidak, olahraga ini telah mempersatukan masyarakat India yang lebih dari satu miliar jiwa. Hampir setiap hari, televisi India menayangkan pertandingan criket, baik secara langsung maupun tunda. Belum lagi ulasan dan rumor di luar lapangan.

Bagimana perkembangan criket di Indonesia khususnya Sumatera Utara'

Olahraga criket sudah lama terpendam di Indonesia.  Olahraga yang hampir mirip dengan kasti ini, sudah ada di Indonesia sejak Tahun 1880-an. Dalam satu literatur mengenai letusan Gunung Krakatau dan kehidupan masyarakat Jakarta pada saat itu, disebutkan adanya permainan kriket antara Batavia Cricket Club dengan tamu Circus Eleven di daerah Monas (Monumen Nasional) sekarang berada.

Criket dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan 11 orang dan lamanya permainan tidak dibatasi oleh waktu, tetapi menggunakan over (perpindahan).

Criket serupa, tetapi tak sama dengan olahraga kasti yang sudah populer di masyakarat lokal Indonesia. Jika pada kasti, pemukul harus mengelilingi lapangan setelah memukul, pada olahraga criket pemukul hanya perlu berlari bolak-balik di dalam pitch.

Ada lima bagian dalam permainan ini yaitu batting (memukul bola), bowling (melepas bola dari atas dan tangan lurus), fielding (menjaga), catching (menangkap), wicket keeper (penjaga stump), scoring (nilai yang dikumpulkan oleh si pemukul), dan umpire (wasit).

Orang yang memukul bola disebut batsman (pemukul). Seorang batsman menggunakan bat (kayu pemukul), gloves (sarung tangan), pad (pelindung kaki), pelindung kelamin, dan helmet (pelindung kepala).

Pada Tahun 1992, sejumlah kegiatan olahraga criket mulai terlihat aktif dan merupakan cikal bakal terbentuknya Jakarta Cricket Association (JCA) dan berdirinya sebuah kompetisi liga criket. Pada saat yang hampir bersamaan dengan lahirnya JCA, pertandingan criket secara rutin diadakan di Bali dan beberapa tahun kemudian Kriket Bali dibentuk.

Pada Tahun 1997, olahraga ini mulai dimainkan oleh orang Indonesia Timur terutama anak-anak NTT di Kupang dan berkembang pesat di sana. Pada tahun 2000 dibentuk Yayasan Criket Indonesia (Indonesia Cricket Foundation) yang membantu mengkoordinasi perkembangan criket di Indonesia.

Di Sumatera Utara, olahraga criket tak begitu populer. Bahkan, boleh dibilang tak dikenal masyarakat. Untuk itu, Ketua Umum Persatuan Cricket Indonesia (PCI) Sumut periode 2015-2019 Bosfer Gurning, mengharapkan olahraga criket bisa lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia khusus Sumatera Utara.

"Jadi sudah menjadi tugas kami dan pengurus PCI Sumut untuk menyosialisasikan olahraga ini agar lebih dikenal oleh masyarakat. Memang criket ini masih asing bagi telinga masyarakat Indonesia khususnya Sumut. PCI Sumut butuh dukungan Pemprov Sumut untuk lebih mengembangkan olahraga ini," ujar Bosfer di Medan, Ahad (27/9/2015).

Bosfer bersama Bendahara Umum Maruli Silitonga menyebutkan, PCI Sumut akan melakukan sosialisasi dengan cara membuat pertandingan di berbagai kota. 

"Kami akan memperbanyak agenda pertandingan di daerah-daerah. Dengan agenda pertandingan ini, secara otomatis akan ada sosialisasi ke masyarakat," lanjutnya.

Saat ini PCI akan menfokuskan untuk berprestasi di Kejurnas Pra PON Criket yang berlangsung di Cibubur, Jawa Barat, 15-18 Oktober 2015. Even tersebut menjadi tujuan Sumut dengan menargetkan meraih medali pada Asian Games dan SEA Games 2015.

"Saat ini kita sering melakukan pertandingan persahabatan, seperti dengan Malaysia kemarin. Tujuannya agar atlet terbiasa dan juga mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Kami juga menargetkan untuk meraih tiket PON Jabar 2016", timpal Maruli Silitonga yang juga Manager Tim Criket Sumut.

Rasa optimistis tersebut setelah terbentuknya tim criket Sumut yang saat ini sedang menjalani Pemusatan Latihan (Pelatda). 

"Target kami minimal mencapai 8 Besar. Baik pemain, manajer maupun pelatih, berharap kami bisa meraih hasil paling maksimal 8 Besar. Tapi, bukan berarti kami tak menginginkan medali," ungkap Maruli.

Materi pemain tambah PNS Dispora Sumut itu, cukup lumayan. Rata-rata pemain pemain tim putra-putri Pra PON Sumut pelajar dan Mahasiswa. 

"Mereka sudah tiga bulan kita persiapkan. Kami harus optimis. Kalau bukan sekarang, kapan lagi,” tegas Maruli. 

Dan, untuk memantapkan tim criket Sumut melakukan laga pemanasan di Open Criket Sumut di lapangan Unimed, Medan, Ahad (27/9/2015). Even ini melibatkan Aceh, Binjai, Langkat dan Sri Lanka yang bermaterikan anak-anak kamp pengungsi UNHCR yang ada di Medan. (BS-030)


Tag:

Berita Terkait