Beritasumut.com - Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumatera Utara (Sumut) akhirnya buka suara soal cedera yang dialami salah seorang atlet karate binaan PPLP Sumut.
Instansi yang menaungi wadah pembinaan atlet muda itu menyesalkan terjadinya insiden tersebut yang sampai menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat.
Kabid Bina Keolahragaan Dispora Sumut Drs Darwis menegaskan, pihaknya sangat serius mendalami persoalan tersebut. Sehingga dari investigasi awal yang mereka lakukan, sudah mulai menemukan titik terang.
"Dari hasil penelurusan awal, kami menilai telah terjadi kelalaian pelatih dalam menangani atletnya. Karena itu, kami akan meninjau ulang status pelatih tersebut," ungkap Darwis didampingi Kasie Olahraga Prestasi Johan Erick Purba dan Kasie Olahraga Masyarakat Mazrinal SE MM di Medan, Selasa (4/8/2015) siang.
Dijelaskan Darwis, sang atlet, Diky Prasetyo (14) dan orangtuanya datang ke kantor Dispora Sumut pada Rabu (29/7/2015) lalu didampingi beberapa pengurus KKI.
Mereka mengadukan bahwa atlet muda Kushin Ryu M Karatedo Indonesia (KKI) Kota Tebingtinggi yang baru dua pekan berada di PPLP Sumut mengalami cedera pada rusuk, memar pada mata dan bibir. Cedera itu menurut orang tuanya, Fachruddin akibat kekerasan fisik yang dilakukan pelatih dan para atlet senior (tim Pra PON).
Pihaknya, lanjut Darwis, menindaklanjuti tuduhan kekerasan fisik itu dengan melakukan klarifikasi kepada pelatih dan para saksi mata di PPLP Sumut. Erwin Kamarullah selaku pelatih mengakui adanya cedera yang dialami atletnya akibat sparing partner dengan atlet Pra PON. Namun mereka langsung memeriksakan kondisi Dicky ke klinik PPLP serta menyerahkan kepada masseur (terapis pijat) untuk menangani kemungkinan pergeseran tulang.
Prosedur itu merupakan cara penanganan yang selalu dilakukan kepada para atlet yang bernaung di PPLP Sumut. Petugas medis mengakui kalau mereka menangani Dicky.
Namun Darwis menilai, pelatih tidak proporsional dalam menerapkan program latihan kepada atlet mudanya, apalagi yang baru saja masuk sebagai siswa baru. Tidak sepantasnya sang atlet yang baru 14 tahun dan baru sekitar dua pekan di PPLP Sumut, langsung bertarung dengan atlet Pra PON yang jauh lebih berpengalaman.
"Sangat tidak tepat menerjunkan atlet yang sedang dalam persiapan umum dan adaptasi untuk latih tanding, apalagi dengan atlet yang lebih senior," tutur Darwis.
Selain itu, pihaknya juga sedang menelusuri apakah benar Erwin Kamarullah menendang atlet dari belakang.
"Persoalan ini menjadi perhatian kami sejak awal munculnya laporan sekitar sepekan lalu. Kami akan memberi keputusan secepatnya," tegas Darwis.
Pihaknya juga membuka komunikasi dengan semua pihak terkait agar persoalan ini tidak ditanggapi secara berlebihan. Ia juga meminta masukan dari berbagai pihak, karena bagaimanapun pembinaan di PPLP Sumut harus lebih baik di masa-masa mendatang. (BS-030)