Beritasumut.com - Sepakbola merupakan olah raga yang sangat dicintai seluruh lapisan masyarakat di belahan dunia manapun. Selain itu sepakbola juga sebagai wadah pemersatu seluruh komponen bangsa, tentunya dengan segala harapan dan keinginan untuk meraih prestasi yang setinggi-tingginya adalah keingin besar masyarakat Indonesia saat tim dan klub kebanggaan negeri ini bertanding untuk mengharumkan nama bangsa dan mensejajarkannya sebagai sebuah negara yang memiliki sepakbola yang disegani oleh negara-negara lain.
Demikian ditegaskan Sekretaris Umum Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Sumatera Utara (PKC PMII Sumut) Darwin Sipahutar dalam keterangan tertulisnya, Kamis (21/5/2015).
Dijelaskan, suramnya masa depan sepakbola tanah air hari ini tidak terlepas dari kinerja PSSI yang buruk dalam menata dan membina kualitas sepakbola tanah air. Hal itu terbukti dengan minimnya prestasi yang diraih. Masih segar dalam ingatan kita saat Timnas U-19 menjelma sebagai tim dengan kekuatan besar untuk menjawab kegelisahan masyarakat, nyatanya tidak didukung penuh oleh PSSI. PSSI lebih suka membubarkan Timnas U-19 setelah kalah dalam kualifikasi Piala Dunia U-19 di Myanmar.
Ironisnya, bangsa yang dihuni ratusan juta penduduk ini, untuk mencari pemain yang berkualitas dan mumpuni saja susahnya setengah mati. Apalagi untuk menjadi tim sepakbola yang kuat, terpaksa negeri ini harus memakai jasa pemain naturalisasi, terang Darwin yang juga pengagum berat PSMS Medan dan Liverpool ini.
Harus jujur kita akui bahwa sepakbola kita jauh tertinggal bila dibanding dengan kualitas sepakbola negara-negara Asia Tenggara, Malaysia, Singapura, Filipina, Myanmar dan Thailand dimana konfederasinya lebih mengutamakan kualitas untuk meraih prestasi, pembinaan pemain muda sebagai langkah membenahi sepakbola, ini yang tidak dilakukan oleh PSSI.
Kemudian bandingkan saja Jepang, Korsel dan Indonesia mulai membangun sepakbolanya hampir bersamaan, tapi kedua negara tersebut sudah mengekspor para pemainnya untuk merumput di kasta sepakbola Eropa. Sementara Indonesia masih bercokol dengan sejumlah masalah, gaji pemain yang tidak pernah tuntas, hak siar, tiketing, sponsor menjadi santapan lezat para pengurus PSSI dalam meraih bisnis dari keringat pemain.
Langkah Imam Nahrawi sebagai Menpora untuk memberantas mafia sepakbola Indonesia harus diacungi jempol. Keberanian beliau mengeluarkan keputusan membekukan induk sepakbola tanah air (PSSI) sudah tepat dan sebuah langkah yang layak diapresiasi oleh seluruh insan pencinta sepakbola tanah air demi untuk memperbaiki kualitas sepakbola yang minim prestasi dan terbebas dari mafia.
Kerinduan akan sebuah prestasilah membuat kita sadar bahwa reformasi di tubuh sepakbola Indonesia harus dilakukan secepat mungkin demi untuk sebuah prestasi, sehingga dunia luar pun tidak memandang sebelah mata akan sepakbola Indonesia. Harapan dan doa kita bersama kepada Menpora Imam Nahrawi agar selalu tegar dalam mengahadapi situasi yang berat ini demi perbaikan sepakbola Indonesia ke depan, pungkas Darwin. (BS-001)