Beritasumut.com - Anggota Komisi X DPRRI Sofyan Tan mendukung upaya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan KONI Sumatera Utara (Sumut) untuk memetakan cabang olahraga unggulan di setiap daerah. Selain lebih efisien, program pembinaan juga bisa lebih fokus dalam mencapai prestasi.
"Memang banyak cabor yang berkembang di Sumatera Utara. Tapi tidak mungkin semuanya ditangani karena hasilnya tidak akan maksimal," ungkap Sofyan Tan saat kunjungan kerja ke Kantor Dispora Sumut, Jalan Iskandar Muda, Medan, Senin (11/5/2015) petang.
Fokus pembinaan menurut Ketua Umum Perbasi (basket) Sumut itu tentu terkait dengan anggaran dan sarana prasarana. Jika suatu daerah telah ditentukan cabor unggulannya, maka sarana terkait cabor tersebut sajalah yang dilengkapi.
Kriteria penentuan cabor unggulan bisa saja ditentukan dari faktor sejarah. Misalnya, Sumut selalu menjadi sentra lahirnya pemain sepakbola handal. Basket pernah jaya di era 70-80an, begitu juga dengan renang, polo air, hoki, tinju, karate dan lainnya.
Kadispora Sumut Baharuddin Siagian kembali menyampaikan bagaimana Kabupatem Karo berhasil menjadi juara umum kedua Porprov Sumut berkat begitu banyak medali yang mereka raih dari cabor atletik dan gulat.
Untuk itu, perlu dilakukan mapping di kabupaten/kota agar nantinya kabupaten kota memiliki prioritas untuk menggalakkan olahraga yang potensi di kawasan masing-masing.
Hadir dalam kesempatan itu Mesnan selaku Kabid Pembinaan Prestasi KONI Sumut, perwakilan KNPI Mora Batubara dan Perwakilan National Paralympic Committe (NPC).
Mesnan menyampaikan keluhan soal terbatasnya dana KONI Tahun 2015. Padahal, tahun ini digelar Porwil dan Kejurnas Pra PON, sangat menentukan prestasi Sumut di PON 2016.
Sofyan Tan mengakui dana olahraga dan pemuda secara nasional sangat minim. Karena itu, ia hadir ke langsung ke Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumatera Utara untuk menyerap kebutuhan dan masukan untuk peningkatan anggaran di masa mendatang.
Ia mengungkap ada 2 bantuan yang akan disalurkan ke Sumut. Pertama pembangunan 5 lapangan di pedesaan sebagai bagian dari program pemerintah 1000 lapangan di seribu desa. Bukan hanya lapangan sepakbola.
Kedua, ada anggaran senilai Rp2 miliar untuk rehabilitasi GOR mini. "Saya masih cari-cari gedung mana yang pantas direhab dengan anggaran Rp2 miliar," ungkap Pemuda Pelopor Tahun 1990 Bidang Kesetiakawanan Sosial itu. (BS-030)