Beritasumut.com-Penyakit asma bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal usia. Dokter Spesialis Paru, dr Andhika Kesuma Putra menjelaskan, asma merupakan peradangan kronik yang umum terjadi pada saluran nafas.
Hal ini ditandai dengan gejala yang bervariasi dan berulang, berupa terjadinya penyumbatan saluran napas yang bersifat reversibel (bisa hilang sendiri kembali ke sedia kala saat sebelum gejala muncul).
“Asma secara klinis diklasifikasikan berdasarkan seberapa sering gejala muncul, volume ekspirasi paksa dalam satu detik, dan puncak laju ekspirasi. Klasifikasi asma saat ini dibuat berdasarkan tingkat kontrolnya, baik penuh, parsial, atau tidak terkontrol sama sekali,” ungkapnya kepada wartawan, kemarin.
Penyebab terjadinya asma, lanjut Andhika, akibat interaksi lingkungan dan genetika yang merupakan kombinasi yang rumit dan belum sepenuhnya dimengerti. Faktornya yakni genetik, merokok selama kehamilan, kualitas udara yang buruk, pajanan alergen dalam rumah dan hewan peliharaan yang tidak bersih juga bisa menjadi penyebab asma.
"Selain itu, obat-obatan juga bisa memicu asma muncul atau kambuh. Penyakit penyerta seperti sinusitis, ekzema, perubahan suhu, olah raga juga bisa memicu asma kumat,” katanya.
Selain penyebab-penyebab tersebut, Andhika juga tidak menampik apabila perubahan tingkat emosi juga bisa memicu datangnya asma. Perubahan tingkat emosi ini biasanya dikarenakan stres, sedih, atau marah."Namun sering juga didapati asma bisa muncul saat ketawa, bahkan ada pasien yang hanya senyum saja asmanya bisa kumat,” sebutnya.
Asma, lanjut Andhika bisa mengancam nyawa hingga mengakibatkan kematian pada orang-orang tertentu. Gejala klasiknya adalah sesak nafas, bunyi mengi (ngik ngik) dan dada terasa berat.
"Beberapa orang dengan asma datang dengan gejala batuk, dan pada kasus yang sangat parah, aliran udara benar-benar terganggu sehingga tidak terdengar lagi suara mengi. Tanda lain adalah, denyut nadi yang melemah pada saat menarik napas dan denyut nadi menjadi kuat saat menghembuskan napas. Warna biru di kulit dan kuku bisa terjadi akibat kekurangan oksigen yang lama dan ini bisa menyebabkan kematian,” paparnya.
Untuk terhindar atau mengurangi resiko asma tersebut, hal yang dapat dilakukan diantaranya mencegah kontak dengan alergen (penyebab kumatnya asma), walaupun dalam kenyataannya sulit. Pola hidup sehat dengan tidak merokok, memberikan ASI yang cukup kepada bayi membuktikan meningkatnya imunitas individu dari serangan asma.
“Bagi penderita, cara pengobatan asma yang paling efektif yaitu menemukan pemicunya, misal merokok, hewan peliharaan, atau lainnya, dan menghilangkan pajanan terhadap pemicu-pemicu tersebut. Jika menjauhi pemicu masih belum cukup, baru disarankan untuk menggunakan obat,” katanya.(BS02)