Beritasumut.com-Meningkatnya kasus bunuh diri di usia muda di tahun 2016 ini kerap terjadi. Di bulan Mei 2016, salah seorang mahasiswi akademi kebidanan Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia, Ratna Dewi Gea (20) ditemukan tewas di kampusnya di Jalan Amal Luhur Medan Helvetia, Senin (09/05/2016). Ratna tewas diduga bunuh diri dengan meminum obat-obatan beracun.Menyikapi maraknya prilaku bunuh diri ini, Direktur Minauli Consulting Irna Minauli mengatakan salah satu faktor pemicunya prilaku bunuh diri adalah kesalahan pada pola asuh, selain faktor genetik dan juga faktor kejiwaan bawaan. "Pola asuh yang menyimpang itu ketika orangtua terlalu memanjakan anak, sehingga anak menjadi tidak siap menghadapi masalah," ungkapnya di Medan, Selasa (10/05/2016).Irna menjelaskan, dengan memanjakan anak yang terlampau berlebih, maka anak menjadi tidak akan kuat dalam menghadapi kehidupan. Anak cenderung mudah depresi, sehingga memungkinkannya berpikir bunuh diri ketika tidak bisa menyelesaikan masalahnya."Bunuh diri sering dijadikan cara sebagai jalan keluar yang termudah. Apalagi bagi orang yang tidak memiliki daya psikologis (lenting) yang kuat, sangat memungkinkan untuk melakukannya," jelasnya. Disebutkannya, prilaku bunuh diri di tahun 2000-an lebih banyak dilakukan oleh mereka yang berusia dibawah 30 tahun bahkan di usia belasan tahun. Hal ini berbeda dengan era tahun 80-an, bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh mereka yang berusia 35-50 tahun."Orang tua dahulu dalam mendidik anak lebih keras. Sehingga anak yang dididik dengan cara itu lebih survive dalam hidupnya," terangnya. Makanya dalam mendidik anak, orang tua harus mendorong terciptanya life skill dalam hidup. Karena itu akan mempengaruhi kualitas hidup yang dijalani," paparnya.Menurutnya, orang yang teralienasi (terasingkan) dari lingkungan dan keluarga mestinya mendapatkan dukungan sosial, maka lingkungan juga mesti lebih aktif dan harmonis. Sebelumnya Irna juga mengatakan perilaku bunuh diri ini juga merupakan prilaku keturunan. Jika buyutnya pernah tercatat melakukan bunuh diri maka keturunannya juga sangat berkemungkinan untuk melakukannya. "Tetapi yang diturunkan adalah sifat depresinya. Sedangkan prilakunya berupa mencontoh apa yang pernah dilakukan oleh buyut," tandasnya. (BS02)