Beritasumut.com-Perkembangan teknologi sel punca atau 'stem cell technology' di dunia sangat cepat. Saat ini teknologi sel punca merupakan harapan bagi pasien di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Terapi sel punca mulai dikembangkan di dunia pada tahun 1996, dan Indonesia memulainya sekitar tahun 2007. Sel punca bisa dikembangkan dari embrio, tali pusat bayi baru lahir, jaringan sendiri (autologous) maupun orang lain (allogenic)."Inilah mimpi masa depan. Saya bukan seorang dokter tapi saya selalu berpikir untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, salah satunya dengan memperhatikan kesehatannya," ucap Menteri Nasir yang didampingi Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Muhamad Dimyati pada kunjungan kerja ke UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca RSCM-FKUI Gedung CMU lantai 5, pertengahan pekan kemarin seperti dilansir dari ristekdikti.go.id.Menurut Menristekdikti Nasir, dirinya mendapatkan informasi mengenai pengembangan teknologi sel punca dari Dekan Fakultas Kedokteran UI, Ratna Sitompul, Ketua Program Penelitian Sel Punca Ismail, serta Direktur RSCM Heriawan Soejono.Stem cell adalah inovasi teknologi yang sangat maju, namun aplikasi teknologi ini untuk masyarakat dengan cepat perlu didukung. Perlu dikaji faktor-faktor yang menyebabkan diseminasi teknologi ke masyarakat masih lambat."Apakah ada masalah pada regulasi penerapan teknologi sel punca?" ujar Nasir.Jika ada masalah regulasi, Menristekdikti akan segera mengkoordinasikannya dengan Menteri Kesehatan. "Mana regulasi ataupun peraturan yang harus diperbaiki, maka akan segara kita pelajari, diskusikan, dan dicarikan solusinya," ujar Menteri Nasir.(BS02)