Penyakit Demam Berdarah

Dinkes Medan Harus Lakukan Penyelidikan Epidemiologi

- Jumat, 15 April 2016 17:23 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir042016/beritasumut_Dinkes-Medan-Harus-Lakukan-Penyelidikan-Epidemiologi.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Beritasumut/Ilustrasi
Demam Berdarah Dengue (DBD)
Beritasumut.com-Guna mengantisipasi merebaknya kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang meresahkan masyarakat.Pengamat kesehatan DR dr Umar Zein SpPD KPTI menyarankan Dinas Kesehatan (Dinkes) seperti Medan supaya melakukan penyelidikan epidemiologi.

"Penyelidikan Epidemiologi (PE) itu mencari sumber kasus penularan. Ini merupakan upaya menghambat penyebaran terjadinya DBD dan juga penyakit menular lainnya. PE memang sudah ada programnya di Puskesmas, tapi diharapkan untuk lebih peduli dan lebih diaktifkan lagi," kata konsultan penyakit tropik dan infeksi ini, Jumat (15/04/2016).

Sedangkan untuk antisipasi gigitan nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor penular penyakit DBD, Umar menyarankan, dengan mengurangi populasi nyamuk tersebut melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). "Kalau foging itu mengurangi nyamuk dewasa dan dilakukan bila ada kasus karena ada vektor penularnya," ujarnya.

Menurutnya lagi, perlunya dilakukan foging fokus yaitu mencari sumber penularan DBD apakah di rumah atau di sekolah dengan radius seratus meter. "Kalau kasusnya sudah banyak, dilakukan foging massal. Foging fokus itu bisa saja dilakukan sampai sepuluh kali dalam satu hari misalnya di satu kecamatan. Foging fokus juga untuk menekan kasus," katanya.

DBD jelasnya, adalah demam akut artinya bisa tiba-tiba dan waktunya 2 sampai 7 hari dan ada juga yang 11 hari. "Kalau diatas 7 hari itu biasanya sudah sembuh dan masa krisisnya 3 sampai 5 hari yang dapat menyebabkan terjadinya Dengue Shock Syndrom dan dapat menyebabkan kematian," terangnya.

DBD itu, jelasnya lagi, ada 4 grade dan yang berat yaitu di grade 3 dan 4 sehingga harus memerlukan penanganan di rumah sakit karena bisa meninggal, supaya fase kritis bisa dilewati. Kalau sudah terlambat, susah untuk diobati. Umumnya yang terserang DBD itu usia bayi dan remaja.Sementara kasus DBD yang ditanganinya, sebutnya, bulan Januari ada 16 orang dan Februari 1 orang yang sedang menjalani perawatan. "Kasusnya sudah dilaporkan ke dinas kesehatan Medan,"ujarnya.

Seperti diketahui, dalam kurun waktu Januari-Maret 2016 ini, sebanyak 97 orang menjalani rawat inap di RSUD Dr Pirngadi Medan.Di mana tiga diantaranya meninggal dunia.(BS01)


Tag:
DBD

Berita Terkait

Kesehatan

Jumlah Kasus DBD di Sumut Mencapai 8.963 Orang

Kesehatan

Wabah KLB Malaria dan DBD di Nisel Diperpanjang hingga Akhirnya Desember

Kesehatan

Jumlah Kasus DBD di Sumut Meningkat Menjadi 5.853

Kesehatan

Delapan Orang Meninggal, Nias Selatan Darurat Wabah DBD dan Malaria

Kesehatan

Dinas Kesehatan: Penyebaran Nyamuk Wolbachia Belum Dilakukan

Kesehatan

Hingga Agustus, Kasus DBD di Medan Mencapai 1.357 Orang