Stres Jadi Penyebab Kita Tidak Berempati

Redaksi - Minggu, 18 Januari 2015 17:46 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/fotonews/dir012015/beritasumut_Stres-Jadi-Penyebab-Kita-Tidak-Berempati.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Ilustrasi. (Google)
Beritasumut.com – Stres merupakan alasan mengapa kita sulit untuk berempati dengan orang yang tidak kita kenal. Demikian menurut para peneliti.Seperti dilansir BBC Indonesia, dalam sebuah pengujian yang dilakukan terpisah pada tikus dan manusia, ditemukan bahwa perasaan empati kepada orang asing meningkat ketika hormon penyebab stres diblokir oleh obat.Memainkan permainan video yang asyik dengan orang asing juga memiliki dampak yang sama dengan digunakannya obat, kata tim penelitian Kanada dan Amerika yang menerbitkan penemuan mereka di majalah Current Biology.Penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa kemampuan merasakan atau ikut merasakan penderitaan atau rasa sakit yang dialami orang lain bukan hanya dimiliki manusia, tikus juga dapat merasakan empati.Namun dalam kedua spesies ini, perasaan empati muncul kuat di antara mereka yang saling mengenal dan sama sekali tidak ada jika tidak saling mengenal.Tingkat stres juga terlihat melonjak baik pada tikus maupun manusia ketika mereka berhadapan dengan yang tidak mereka kenali.Tingkat stres pada tikus meningkat ketika berhadapan dengan tikus lain yang mereka tidak kenali.Dalam penelitian ini, para peneliti memberikan obat pemblokir stres kepada tikus dan mengamati responsnya ketika dihadapkan pada tikus lain yang sedang kesakitan.Mereka menemukan bahwa tikus menjadi lebih berempati dan lebih berbaik hati kepada tikus yang tidak dikenalnya dan bereaksi dengan cara yang biasanya seperti ketika berhadapan dengan tikus yang mereka kenal.Ketika tikus itu dibiarkan stres lagi, tikus menjadi kurang berempati kepada tikus yang sedang kesakitan.Pengujian yang sama dilakukan kepada para mahasiswa dengan menggunakan obat yang sama dan menunjukkan dampak yang persis sama, kata penelitian itu.Dr Jeffrey Mogil, penulis laporan studi ini yang juga merupakan ahli sistem saraf dari Universitas McGill di Montreal, Kanada, mengatakan bahwa penemuan timnya ini memberi isyarat bahwa sistem stres di dalam otak dapat "memveto" sistem empati kita."Namun tidak banyak orang yang menyadari bahwa ada tanggapan stres ketika kita berada di ruangan bersama dengan orang-orang yang tidak kita kenal," kata Mogil.Mogil juga menemukan bahwa rahasia untuk mengurangi tingkat stres dengan cepat adalah dengan memainkan permainan pemecah kebekuan.Dalam penelitian itu, sejumlah mahasiswa yang saling tidak mengenal memainkan permainan video yang menyenangkan yang memerlukan mereka untuk bekerja sama."Saat pengujian dilakukan, sudah tidak ada lagi stres," kata Mogil. (***)


Tag:

Berita Terkait

Kesehatan

Bullying Hingga Narkoba, Faktor Stres Timbulkan Gangguan Mental Remaja

Kesehatan

Jenguk Bayi Penderita Astresia Bilier, Walikota Medan Minta Masyarakat Doakan Untuk Kesembuhannya

Kesehatan

Waspadai Gangguan Psikososial pada Anak, Kemen PPPA Dorong Satuan Pendidikan Lebih Berempati pada Peserta Didik

Kesehatan

Diduga Stres Karena Sakit, Oknum Polisi Bunuh Diri di Serdang Bedagai

Kesehatan

Pemilu 2019, Kemenkes Soroti Prediksi Caleg Stres Karena Gagal Terpilih

Kesehatan

Kesehatan Mental Remaja, Salah Satu Permasalahan Indonesia Terkait Bonus Demografi