Teater Rumah Mata : Keliling Provinsi dari Hasil Ngamen

- Selasa, 05 April 2016 21:19 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/dir042016/beritasumut_Teater-Rumah-Mata---Keliling-Provinsi-dari-Hasil-Ngamen.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Beritasumut/Ilustrasi
Teater
Beritasumut.com-Roadshow naskah Ekstase Kemoceng dari Teater Rumah Mata yang berakhir di Aceh pada 20 Maret lalu berakhir sukses. Bermodalkan dana dari hasil mengamen, mereka sukses menampilkan seni teater kebeberapa provinsi di Indonesia.

Dimulai sejak 24 Februari lalu, penulis naskah Gusaolisus mengungkapkan, bersama dengan rekan-rekannya, mereka sukses mementaskan teater hingga ke Pulau Jawa.Naskah yang ditulis Gusaolisus ini dipentaskan secara outdoor dan indoor diperkuat dengan dua orang pemain lainnya, Hayyun Kamila Humaidah dan Ajeng Prakoso. 

"Sebelum ke Jakarta, kita sudah main, istilahnya ngamen di Balai Marojahan, Kafe Garasi, dan di rumah Dewi Budiarti T J Said, Sekolah Bethani dan Taman Edukasi Avros. Dari hasil ngamen itu untuk biaya kita roadshow ini," ungkapnya.

"Bahwa sudah sulit mencari kelompok-kelompok teater yang berani keliling dengan modal berharap dari langit. Kemarin kita cuma punya dana hasil mengamen, untuk berangkat dari Medan ke Jakarta dan berharap dari langit untuk kemurahan rejekinya untuk melanjutkan ke kota lain," paparnya menambahkan saat ditemui Selasa (05/04/2016). 

Sebelum roadshow, lanjut Gus, pihaknya membawa tiga pertanyaan besar, yakni apakah masih adakah harapan teater Indonesia, masihkah pemerintah berpihak kepada teater, dan apa jadinya jika teater tak punya negara, lalu bagaimana bisa hidup.

Saat berkeliling, dari tiga pertanyaan tersebut dia menemukan ternyata masih ada secercah harapan perkembangan teater Indonesia terutama di Medan. Walaupun, diakuinya, kondisi di Medan lebih kritis dan ironis dibandingkan daerah lainnya. Setidaknya, kata dia, ada empat permasalahan di Medan, pertama Medan kehilangan atmosfer proses kreatifnya karena proses tersebut tak dilewati dengan serius. 

"Menganggap teater bisa sekedarnya. Jadi atmosfer itu hilang. Kedua, Medan sangat minim budaya apresiasi. Pertunjukan itu sangat minim. Begitupun, masalah ketiha, Medan kehilangan suasana diskusi dan dialog, saling sharing untuk mengembangkan kreatiifias dan ide atau gagasan pertunjukan. Karena itu, Medan harus berjuang untuk bisa seimbang dengan daerah lain," ungkapnya.(BS02)


Tag:

Berita Terkait

Gaya Hidup

Anak-anak Sumut Bedah Medsos dan Keberagaman dalam Film dan Teater

Gaya Hidup

Iswanda Ramli Tutup Gelar Medan Berseni DKM 2018, Teater Bangsawan Meriahkan Acara

Gaya Hidup

Teater Santa Angela Bermimpi Pentas ke Jakarta dan Ditonton Banyak Orang

Gaya Hidup

Anak-anak di Aceh dan Sumut Suarakan Pentingnya Kontribusi Perusahaan untuk Pemenuhan Hak Anak

Gaya Hidup

Teater O USU Beri Pengharagaan Tokoh Teater Sumut

Gaya Hidup

Peringatan Hut Perak Teater O Ditutup Dengan Otete Toyol