Beritasumut.com-Sumatera Utara (Sumut) menduduki posisi tertinggi angka inflasi dari seluruh provinsi di Indonesia. Hal ini dikatakan Kepala Bank Indonesia Sumatera Utara Difi Djohansyah saat Rapat Koordinasi TPID Kabupaten/kota se-Provinsi Sumatera Utara di Hotel Niagara Parapat, Jumat (22/04/2016).Dikatakan Difi, tekanan inflasi volatile foods pada Maret lalu mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan untuk komoditi cabe merah dan bawang merah. Hal ini tidak sejalan dengan keadaan Sumut yang merupakan sentra komoditi cabe merah seperti Kabupaten Batubara, Karo, Simalungun dan lain-lain. Padahal Sumut tercatat sebagai produsen cabe merah nasional terbesar kedua dengan kontribusi memenuhi 18% kebutuhan cabe nasional.Adapun penyebab tingginya harga komoditi cabe merah di Sumut pada Maret lalu adalah menurunnya pasokan cabe di pasar-pasar di Sumut sehingga mengakibatkan terjadinya kenaikan harga, sementara itu cabe merah dari sentra produksi Kabupaten Batubara dipasarkan di luar provinsi seperti Pekanbaru, Batam, Padang dan lain-lain."Untuk itu perlu dicarikan solusi, menentukan instrument yang tepat secara bersama untuk menjaga inflasi menghadapi Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri," ujarnya.Difi mengatakan, bila Sumut tidak mewaspadai gejala ini, dikhawatirkan bila tidak dilakukan langkah-langkah antispasi maka sasaran angka inflasi Sumut sebesar 4±1 % tidak akan tercapai. Berdasarkan pengamatan BI, menurutnya ada perubahan pola pergerakan inflasi yang tidak terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. "Awal Januari hingga April adalah periode panen raya beras dan cabe merah, sehingga umumnya di Sumut pada periode itu justru terjadi deflasi. Namun pola yang terjadi selama tiga tahun sebelumnya itu tidak terjadi lagi, malah tahun ini Sumut alami inflasi," ujarnya. Dengan demikian Bonus deflasi tidak terjadi, sehingga dikhawatirkan secara akuimulasi angka inflasi Sumut pada akhir tahun 2016 nanti tinggi dan sasaran tidak tercapai."Berbagai instrumen yang bisa dilakukan secara bersama adalah mempercepat implementasi toko tani yang di Sumut rencananya 60 unit, membangun pasar lelang komoditas sebagai sarana bagi pedagang dan petani berinteraski secara wajar serta mengaktifkan fitur early warning system pada PIHPS Sumut sebagai alat monitoring harga di 33 TPID kabupaten/kota se-Sumut," pungkasnya. (BS03)