3.260 Lembar Uang Palsu Ditemukan di Sumut

Redaksi - Jumat, 06 Februari 2015 18:50 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/fotonews/dir022015/beritasumut_3.260-Lembar-Uang-Palsu-Ditemukan-di-Sumut.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
Ilustrasi. (Google)
Beritasumut.com – Periode Januari-Desember2014, sebanyak 3.260 lembar uang palsu (Upal) ditemukan di Sumatera Utara (Sumut). Kebanyakan pecahan upal Rp100.000 dan Rp50.000. Uang palsu ini masuk ke loket-loket pembayaran perbankan. Jumlah tersebut tentu belum termasuk jika ada yang masih beredar di masyarakat.Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut Difi A Johansyah di Medan, Jumat (6/2/2015). Ia memaparkan, selama Tahun 2014 upal yang ditemukan sebanyak 3.260 lembar terdiri atas pecahan Rp100.000 sebanyak 1.145 lembar dan  pecahan Rp50.000 sebanyak 2.115 lembar. Dari temuan upal tersebut, ujar Difi, tertinggi peredaran upal yakni Maret 2014 sebanyak 439 lembar, April 404 lembar, November 322 lembar, Juni 303 lembar, Agustus  292 lembar, Juli 277 lembar, Januari 235 lembar, Oktober 233 lembar, September 227 lembar, 206 lembar pada Mei, Februari 206 lembar dan Desember 116 lembar.   Untuk mencegah peredaran uang tidak asli, BI selalu mengingatkan masyarakat agar menerapkan 3 D yakni Dilihat, Diraba dan Diterawang setiap menerima uang tunai. BI juga terus mewaspadai peredaran upal di Sumut. "Kita imbau masyarakat di Sumut lebih waspada. Kita juga sudah sering sosialisasikan bagaimana mengenali uang palsu dengan istilah 3D tersebut dan kita juga memiliki alat untuk mengenali uang palsu itu, sehingga bisa langsung didata kalau ditemukan," ujarnya.                               Untuk mengurangi penggunaan uang tunai dan peredaran uang palsu, BI berupaya untuk memadukan layanan pembayaran tunai dan non tunai dalam rangka mewujudkan less-cash society. "Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar semakin sering menggunakan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu atau APMK," katanya sambil menyebutkan APMK terutama uang elektronik sebagai alternatif uang kertas dan uang logam terutama pecahan kecil.    Pekan lalu, kata Difi, BI mengadakan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah dan gerakan non tunai dihadapan para siswa-siswi di Balige. Mereka sangat antusias menerimanya karena hal ini merupakan  hal baru sekaligus  dapat membuka wawasan bagi generasi muda. (BS-001)


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Sempat Ditunda, Penerbangan Tujuan Bandara Silangit Kembali Normal

Ekonomi

IMM Desak Kapolda Sumut Mundur

Ekonomi

Gubsu dan Pangdam Layat Korban Tewas Bentrok di Karo

Ekonomi

Pemerintah Pusat Beri Perhatian Besar di Sumut, Masyarakat Diminta Jaga Stabilitas Keamanan

Ekonomi

Pasca Kerusuhan Tanjung Balai, Gubsu Imbau Perkuat Koordinasi Lintas Agama

Ekonomi

Pemda Tanah Karo Diminta Tegas Selesaikan Masalah Relokasi Pengungsi