Medan, (beritasumut.com) – Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagub Sumut) Tengku Erry Nuradi kembali mengingatkan seluruh kalangan dan elemen masyarakat untuk menyiapkan diri dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN Economic (MEA) Tahun 2015. Tidak hanya mengantisipasi dampak negatif dari tingginya tingkat persaingan, namun juga harus mampu memanfaatkan peluang dari pemberlakuan pasar bebas MEA.
Hal itu disampaikan Wagub Sumut Tengku Erry Nuradi dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2014 dengan tema "Mengawal stabilitas, Bersinergi Menpercepat Repormasi Struktural" yang berlangsung di Hotel Grand Aston, Jalan Balai Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (16/12/2104).
Hadir dalam acara tersebut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX Sumut-Aceh Difi Johansyah, pimpinan perbankan di Sumut, perwakilan Forum Koordinasi Pemerintah Daerah (FKPD) dan Satuan Kerja Pimpinan Daerah (SKPD), ekonom, akademisi dan palaku usaha.
Dalam kesempatan itu, Erry menegaskan, tidak ada pilihan dalam menghadapi tantangan MEA selain menyiasatinya dengan cerdas. Indonesia, khususnya masyarakat Sumut, harus percaya diri dengan pemberlakuan MEA yang akan dimulai pada awal 2015 mendatang, karena telah memiliki pengalaman dalam menghadapi Free Trade Agreement (FTA).
"Perekonomian Indonesia harus jauh lebih baik saat pemberlakuan ASEAN Economic Community. Kita telah banyak belajar dari pengalaman dalam pelaksanaan FTA) dengan Republik Rakyat Tiongkok, meski mereka berhasil menguasai pasar komoditi Indonesia," ujar Erry pada acara yang turut dihadiri unsur FKPD Sumut, Anggota DPD RI, konjen negara sahabat, para Kepala SKPD Sumut, pimpinan perbankan di Sumut, pelaku usaha, ekonom dan akademisi serta bupati/wali kota se-Sumut.
Erry mengaku, untuk menghadapi MEA bukan hal mudah, karena Sumut masih dirundung sejumlah persoalan, termasuk permasalahan listrik yang butuh pembenahan. Sejumlah proyek pembangkit listrik di Sumut mengalami keterlambatan. Akibatnya, suplai daya listik di Sumut mengalami defisit.
"Seperti daya dari PLTU Pangkalan Susu dengan kapasitas 2 x 200 megawatt yang seharusnya dapat dinikmati masyarakat, kini belum berfungsi maksimal. Dari dua mesin, unit 1 hanya mampu menghasilkan 100 megawaat atau 50 persen dari daya semestinya 200 megawatt. Sementara Unit 2 telah menyuplay 170 megawatt. Kita berharap PLTU Pangkalan Susu segera berfungsi maksimal mengingat Sumut sangat membutuh daya listrik," harap Erry.
Tidak kalah penting, Erry menyebutkan, masih ada kesenjangan pembangunan, pendapatan dan kualitas SDM relative besar antar kabupaten/kota di Provinsi Sumut. Itu akibat pertumbuhan ekonomi Sumut hanya ditopang oleh sebagian kota-kota besar seperti Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai dan Batubara. Sementara Kabupaten/Kota lainnya masih menggeliat bangkit.
"Hal ini mengindikasikan bahwa Sumut masih memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi," sebutnya.
Kendati demikian, Erry optimis Sumut menjadi daerah maju dalam bidang hubungan perdagangan domestik dan internasional dengan adanya dukungan infrastruktur diantaranya Bandara Kualanamu dan pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung.
Selain itu, proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut sebagai etalase wilayah barat Indonesia.
"Untuk mendukung pencapaian Sumut sebagai hubungan perdagangan domestik maupun internasional, pemerintah daerah harus terus meningkatkan upaya pengembangan sektor sekunder dan tersier yang lebih bernilai tambah untuk mengimbangi sektor primer," papar Erry.
Dalam menghadapi MEA, Erry juga mencetuskan beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan pemerintah diantaranya peningkatkan perlindungan terhadap konsumen, memberikan bantuan modal bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan memperbaiki kualitas produk dalam negeri dan memberikan label Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk dalam negeri.
"Dalam menghadapi MEA, kita semua, termasuk Kamar Dagang dan Industri harus mengetahui bidang-bidang apa yang menjadi prioritas di masa pemberlakuan ASEAN Economic Community," ujar Erry.
Tidak lupa Erry menyinggung persoalan seputar perbankan di Sumut. Menurut Erry, perbankan Sumut diharapkan menjadi salah satu tumpuan mengingat perannya dalam pembangunan Sumut cukup besar melalui fungsi pembiayaan.
"Peran perbankan dangat strategis dalam pembangunan, karena berkaitan dengan pembiayaan. Dunia perbankan harus mendukung pertumbungah UMKM dan pelaku indsutri," harap Erry.
Secara rinci Erry memaparkan, hingga triwulan III Tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Sumut tercatat sebesar 5,3 persen. Meski dibawah pertumbuhan ekonomi Tahun 2013 lalu sebesar 6,01 persen, namun Pemerintah Provinsi (pemprov) Sumut yakin perekonomian akan tetap berjalan dengan baik. Optimisme tersebut muncul jika dilihat dari sisi pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumut yang menempati urutan keenam dari 34 provinsi di Indonesia.
"Lima daerah PDRB tertinggi ada di Pulau Jawa. Tetapi dari sisi PDRB, kita harus yakin karena selama ini Sumut merupakan daerah yang memiliki PDRB tertinggi dibandingkan provinsi lain di luar Jawa," tutup Erry.
Selanjutnya dalam hal pengembangan, peraturan dan perizinan, SKPD diharapkan dapat bersinerji dan bekerjasama memajukan perekonomian Sumut dengan membentuk pelayanan satu atap.
"Kontribusi seluruh komponen tersebut menjadi sangat penting mengingat pembangunan Sumut yang lebih baik memerlukan koordinasi dan sinerji dari berbagai pihak. Bagi Pemerintah yang belum memiliki pelayanan satu atap, sebaiknya disegerakan agar masyarakat mudah dalam urusan perizinan," imbau Erry.
Sementara Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX Sumut-Aceh Difi A Johansyah mengatakan, kendati banyak tantangan yang terjadi pada 2014, baik eksternal dan internal, Sumut harus siap menghadapi tantangan Tahun 2015 mendantang, karena pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,8 persen.
"Pergerakan ekonomi akan mulai tampak mulai triwulan III bukan pada awal tahun karena baik swasta maupun pemerintah baru akan memulai kegiatannya. Begitu juga dengan kredit, biasanya baru akan terjadi mulai triwulan II," ujar Difi.
Geliat perekonomian di Medan, Kabupaten Deliserdang, Langkat, Batu Bara dan beberapa kabupaten/kota lainnya akan mendongkrak perekonomian Sumut di Tahun 2015 mendatang.
"Pada Tahun 2013, secara Year On Year, pertumbuhan ekonomi tertinggi berada di Kabupaten Deliserdang yakni sebesar 12,8 persen kemudian Medan dan lainnya. Diperkirakan pada 2014 tidak akan jauh berbeda begitu juga 2015. Namun jika dilihat berdasarkan nilai, Kota Medan tetap menyumbang tertinggi. Kita harapkan hal ini bisa diikuti kota lainnya di Sumut," harap Difi.
Bicara tentang sektor, Difi memperkirakan akan berasal dari sector konsumsi dan investasi. Selain itu, sektor jasa juga menunjukkan grafik kenaikan sehingga dapat menopang perekonomian karena kondisi eksternal masih akan menjadi tantangan berat sehingga memengaruhi dua sektor yang selama ini mendorong perekonomian.
"Jika sektor jasa juga tumbuh seperti di Jawa, tentu bisa menopang jika pertumbuhan sektor konsumsi dan investasi menurun," papar Difi. (BS-001)