Medan, (beritasumut.com) – Melonjaknya harga gas elpiji 12 kilogram dari Rp80.000 menjadi Rp140.000 per tabung yang telah diberlakukan pemerintah sejak 1 Januari 2014 lalu, membuat pengusaha rumah makan dan pedagang kecil menjerit.Mereka terpaksa menaikkan harga harga jual untuk menutupi biaya operasional yang semakin membengkak.Salah seorang pemilik rumah makan di Jalan Rahmadsyah, Kota Medan, Noni, Ahad (5/1/2014) menyatakan, kenaikan harga elpiji sangat memberatkan dirinya. Karena gas merupakan komponen utama pada usahanya ini tidak bisa diganti dengan yang lain.“Bagaimanapun, gas merupakan salah satu kebutuhan utama yang paling kami butuhkan dalam operasional, mau tak mau terpaksa menerima keadaan seperti ini,” katanya.Dengan kondisi seperti ini, dirinya terpaksa menaikkan harga jual untuk menutupi biaya operasional yang meningkat.Terlebih lagi, sejak naiknya harga elpiji 12 kg pada 1 Januari 2014 lalu, harga bahan kebutuhan pokok juga merangkak naik."Dengan naiknya harga elpiji yang berdampak dengan kenaikan bahan pokok, mau tidak mau kami harus menaikkan harga jual sebesar Rp1.000 hingga Rp2.000. Seperti nasi pakai ikan gembung dari Rp8.000 per bungkus menjadi Rp9.000 per bungkus. Nasi pakai pergedel maupun telur dari Rp6.000 per bungkus menjadi Rp7.000 perbungkusnya. Ini kami lakukan untuk mmenutupi biaya operasional yang semakin membengkak," ujarnya.Dirinya menyatakan, meski sudah menaikkan harga makanan, dirinya mengaku tidak takut akan pelanggan yang datang ke rumah makannya lari ke rumah makan lain. "Saya tidak takut, karena sudah memliki pelanggan tetap. Meski dirumah makan lain belum menaikkan harga jual, saya tidak takut untuk bersaing," katanya. (BS-001)