beritasumut.com-Upaya memperkuat harmoni dan toleransi antarumat beragama di Kota Medan terus digalakkan. Bertempat di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Jalan Sutomo, digelar diskusi panel bertema "Merawat Kerukunan" yang mempertemukan berbagai majelis agama di bawah koordinasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan seluruh majelis agama di Medan, termasuk Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Kota Medan, kalangan akademisi UINSU, serta unsur Forkopimda Kota Medan. Forum ini menjadi ruang strategis untuk berbagi pandangan, membahas tantangan kerukunan antarumat beragama, sekaligus merumuskan langkah konkret dalam menjaga semangat toleransi yang selama ini terpelihara di Kota Medan.
WALUBI Medan Hadir Aktif dan Penuh Dukungan
Dalam kegiatan tersebut, WALUBI Kota Medan menunjukkan partisipasi dan dukungan penuh. Selain dihadiri oleh jajaran pimpinan, beberapa pengurus aktif seperti Andi, Lily Kho, Martina, Yena, dan Maria turut berkontribusi dalam sesi diskusi. Kehadiran mereka mencerminkan komitmen umat Buddha dalam menjaga keharmonisan sosial dan memperkuat sinergi antaragama di Medan.
Pesan Ketua WALUBI Medan: Kerukunan Adalah Fondasi Persatuan
Ketua WALUBI Medan, Arman Chandra, yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat sekaligus Ketua KADIN Medan, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya forum lintas agama tersebut.
"Kegiatan seperti yang diselenggarakan di UINSU hari ini merupakan fondasi utama dalam menjaga keberagaman dan memperkuat persatuan di Medan," ujar Arman Chandra.
Ia menegaskan bahwa kerukunan tidak sekadar berarti ketiadaan konflik, melainkan keterbukaan untuk saling memahami dan bekerja sama.
"Kerukunan itu bukan hanya soal hidup berdampingan tanpa konflik, tetapi bagaimana kita saling menghargai dan bergotong royong. Melalui diskusi seperti ini, kita semakin sadar bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan sumber perpecahan," tambahnya.
Arman Chandra juga menyampaikan bahwa umat Buddha bersama majelis agama lainnya siap menjadi garda terdepan dalam menanamkan semangat Bhinneka Tunggal Ika di tengah masyarakat.
Ia berharap hasil dari diskusi ini dapat diterjemahkan menjadi program nyata di tingkat akar rumput, agar nilai toleransi tidak berhenti pada tataran akademis, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Medan.