Dua Anak Medan Jadi Pembicara Its Time to Talk pada Global Child Forum di Swedia

Herman - Kamis, 12 April 2018 15:00 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir042018/3520_Dua-Anak-Medan-Jadi-Pembicara-Its-Time-to-Talk-pada-Global-Child-Forum-di-Swedia.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ist
Beritasumut.com-Ruth Kesia Simatupang (17 thn) dan Fauza Ananda (16 thn), dua anak dari Kota Medan menjadi pembicara mewakili Indonesia pada Global Child Forum yang dilaksanakan di Royal Palace, Stockholm, Swedia (11/04/2018). 

 

Kedua merupakan pekerja anak yang selama ini menjadi dampingan Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) untuk program penarikan dan pembedayaan pekerja anak di Medan. 

 

“Ruth Kesia Simatupang berasal dari Kual Bekala, bersekolah kelas II di SMAN 2 Medan dan sehari-hari bekerja sebagai pemulung, sementara  Fauza Ananda sudah putus sekolah dan sehari-hari bekerja di pabrik sablon. Fauza sudah tamat SMP melalui kejar Paket B dan tahun 2018 ini akan melanjutkan sekolah ke SMA,” jelas Direktur Eksekutif Yayasan PKPA, Keumala Dewi, yang mendampingi kedua anak dalam forum global tersebut, dari Stockholm (11/04/2018). 

 

Lebih lanjut, Keumala Dewi, menyampaikan bahwa Yayasan PKPA sudah dua tahun terlibat aktif dalam kampanye inklusi bertema It’s Time to Talk di Sumatera Utara untuk meningkatkan keterlibatan sektor bisnis untuk menerapkan perlindungan anak baik dalam operasional mereka maupun dalam program tanggungjawab sosialnya. 

 

“Melalui kampanye “Its time to talk”, lebih dari 1.800 anak yang bekerja di 36 negara dapat membagikan berbagai pandangan dan pesan mereka terhadap dunia, termasuk masyarakat, pemerintah, keluarga dan sektor bisnis,” tegas Keumala Dewi. 

 

Menurutnya, dalam Global Child Forum tersebut anak-anak membagikan alasan dan motivasi yang berbeda-beda terkait alasan mereka bekerja.

 

“Dua orang anak-anak tersebut, bukan saja sebagai perwakilan PKPA tapi mewakili 1.800 anak yang bekerja di 36 negara  di dunia. Pada forum tersebut mereka menyampaikan bahwa, umumnya anak-anak seusia mereka bekerja karena keterbatasan ekonomi keluarga, ingin membantu pekerjaan orang tua agar upah yang diperoleh lebih besar atau agar memperoleh keterampilan dan pengalaman dan terakhir, dengan bekerja mereka dapat memenuhi kebutuhan sekolahnya,” ujar Keumala Dewi mengenai isi pidato kedua anak tersebut.

 

Pada kesempatan tersebut pidato Ruth dan Fauza juga menyinggung mengenai pentingnya perbaikan fasilitas dan kualitas pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi anak anak di seluruh dunia. 

 

“Perusahaan dapat mendukung pendidikan yang berkualitas untuk semua anak, termasuk anak-anak disabilitas. Sektor usaha juga dapat membagikan dan menggunakan keuntungan mereka untuk melaksanakan pelatihan keterampilan dan memberikan modal usaha kepada anak-anak disabilitas  dan anak putus sekolah agar mereka dapat memperbaiki kehidupan mereka,” jelas Keumala Dewi mengutip pidato Fauza, melalui pesan Whatsapp. 

 

Lebih lanjut, Keumala Dewi menyampaikan mengenai pidato Ruth Kesia Simatupang yang meminta pemerintah harus berkomintmen membuat kebijakan atau undang-undang yang  memastikan sektor bisnis bertanggungjawab dan berkewajiban untuk melindungi anak-anak dari pekerjaan yang berbahaya dan tidak akan mengeksploitasi anak-anak. 

 

“Ruth sangat yakin bahwa bisnis seharusnya tidak mengizinkan anak-anak untuk melakukan pekerjaan yang berbahaya atau pekerjaan berat. Anak-anak seharusnya tidak dieksploitasi  dan tidak diminta untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama dan dibayar murah. Jika kami bekerja, kami seharusnya dibayar secara adil,” tambah Keumala mengutip pidato Ruth. 

 

Diakhir pesannya, Keumala Dewi menyampaikan bahwa Global Child Forum merupakan organissi non profit yang didirikan keluarga Kerajaan Swedia untuk membntu anak anak dan menjembatani relasi antara pemerintah, dunia usaha dan anak anak di seluruh dunia.

 

Pertemuan tahun 2018 tersebut, tambah Keumala Dewi, merupakan pertemuan ke 10 yang dihadiri setidaknya 50 perwakilan sektor bisnis dari berbagai negara seperti Nestlé, Standard Chartered Bank, Netherland Bank, Tege Energy, IKEA, Badan PBB dan Lembaga Non Pemerintah dari 36 negara yang membagikan pengalaman baik mereka dalam menerapkan partisipasi anak dan keharusan sektor bisnis untuk peduli dan menghargai anak-anak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses bisnis. 

 

“PKPA sendiri terlibat dalam kampanye Its time to talk mewakili Indonesia dan kedua anak Medan tersebut terpilih menjadi perwakilan pekerja anak di 36 negara yang terlibat dalam kampanye Its time to talk dan terpilih menghadiri Global Child Forum tersebut,” pungkas Keumala Dewi.* 

 

*dikirim oleh Sulaiman Zuhdi Manik, Koordinator Media dan Publikasi PKPA


Tag:

Berita Terkait

Cerita Sumut

Dinas Kominfo Medan Dukung PKPA Lindungi Anak dari Kekerasan Berbasis Daring

Cerita Sumut

Yayasan PKPA Kenalkan Hak Anak dalam Agenda Indonesia 4.0

Cerita Sumut

Gereja di Sumut Teken MoU menjadi Gereja Layak Anak

Cerita Sumut

Temu Nasional PUSPA Rekomendasikan Pentingnya Peningkatan Kualitas Ekonomi Perempuan

Cerita Sumut

Gereja di Sumut Teken MoU menjadi Gereja Layak Anak

Cerita Sumut

Anak-anak Sumut Bedah Medsos dan Keberagaman dalam Film dan Teater