Beritasumut.com-Belajar adalah salah satu proses alamiah yang dimiliki manusia sejak lahir. Dalam kehidupan masyarakat, pembelajaran terbagi menjadi dua yaitu Formal dan Informal. Pembelajaran yang dibentuk melalui Pendidikan formal dapat kita temukan di sekolah mulai dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi (S1, S2, dan S3). Pendidikan formal disertai dengan adanya sertifikat berupa Ijazah sebagai bukti bahwa seseorang sudah menguasai bidang ilmu tertentu. Dengan ijazah, seseorang dapat mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dikuasainya. Sedangkan, Pendidikan informal bisa didapatkan dengan cara pembelajaran mandiri (otodidak) ataupun dengan bantuan mentor/pengajar. Perbedaannya, pendidikan informal tidak memiliki bukti kelayakan fisik seperti ijazah dan sebagainya. Seiring berjalannya waktu, ilmu pengetahuan pun terus berkembang dan mulai terpecah menjadi beberapa kategori. Pemecahan bidang ilmu pengetahuan ini menyebabkan banyaknya jenis bidang/ jurusan yang ada, terutama untuk pendidikan tingkat perguruan tinggi. Hal ini memberi dampak tersendiri terhadap para peserta didik yang semakin hari semakin pusing dengan banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai. Ada cara untuk menyiasati fenomena ini. Yaitu metode pembelajaran modern yang disebut 'Quantum Lerning'. Quantum Learning adalah seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif untuk semua umur. Quantum Learning berakar dari upaya Dr Georgi Lezanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai 'suggestology' atau'suggestopedia'. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negatif. (Baca: Quantum Learning Bobbi DePorter, Mike Hernacki). Strategi pembelajaran Quantum Learning yaitu dengan mengubah persepsi bahwa belajar adalah keharusan, menjadi belajar adalah kebutuhan. Contohnya, seorang siswa diberi tugas untuk membaca buku pelajaran biologi dari halaman 1 sampai 30. Perintah ini menimbulkan sugesti 'keharusan'. Tapi jika perintah itu diubah. Seorang siswa diberi tugas untuk menceritakan proses terjadinya hujan. Untuk itu, siswa dapat membaca tentang proses tersebut pada buku pelajaran biologi halaman 1-30. Topik perintah berubah dan terfokus pada proses terjadinya hujan. Siswa tersebut timbul rasa ingin tahu, dan dari rasa ingin tahu itu, tugas membaca buku dari halaman 1-30 berubah menjadi 'kebutuhan'. Di sinilah 'suggestology' atau sugesti tersebut bekerja. Cara lain yang digunakan dalam Quantum Learning yaitu dengan memberikan siswa ruang untuk mengekspresikan dirinya berdasarkan gaya belajarnya sendiri. Modalitas belajar merupakan gaya belajar yang lebih dominan dimiliki oleh seseorang. Modalitas belajar terdiri dari Visual, Auditorial, dan Kinestetik. Pelajar Visual lebih suka melihat pelajaran yang ingin dia pelajari. Sedangkan, Auditorial lebih suka mendengarkan atau memperdengarkan pelajaran yang dia pelajari. Dan pelajar kinestetik lebih suka bergerak sambil belajar atau memperagakan apa yang sedang dia pelajari. Dengan modalitas belajar ini, siswa dapat diberi tugas untuk menceritakan proses terjadi hujan dengan 3 cara, dan pilih yang mana yang diminati. Misalnya, pelajar Visual dapat menceritakannya melalui ilustrasi gambar, pelajar Auditorial dapat menceritakannya langsung di depan kelas, dan pelajar Kinestetik dapat memperagakannya dengan alat bantu peraga. Jika pembelajaran dibuat semenarik ini, proses belajar yang cepat dan menyenangkan dapat tercapai. Ini adalah salah satu contoh metode belajar Quantum Learning yang menyenangkan dan mengasikkan, yang dapat mensugesti pelajar untuk berpikir bahwa belajar bukanlah keharusan, tapi kebutuhan. (Ditulis oleh Yulia Adhia Anwar, Pengajar di YP Gajah Mada Medan)