Eks Pengungsi Sinabung di Siosar Kembangkan Penetasan Telur Puyuh

Herman - Jumat, 02 Maret 2018 15:00 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://beritasumut.com/cdn/photo/berita/dir032018/5260_Eks-Pengungsi-Sinabung-di-Siosar-Kembangkan-Penetasan-Telur-Puyuh.jpg): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u7435190/public_html/beritasumut.com/amp/detail.php on line 171
beritasumut.com/ist
Beritasumut.com-Program penguatan ekonomi perempuan melalui model alternatif livelihood peternakan puyuh bagi korban erupsi Gunung Sinabung, Karo, yang direlokasi di kawasan Siosar tahun 2015 lalu yang dilakukan Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) atas dukungan Yayasan Dompet Dhuafa, latih 25 orang perempuan cara menetaskan telur puyuh, di Siosar, Rabu (28/02/2018). 

 

Ismail Marzuki, program manager kegiatan ini menjelaskan bahwa kegiatan dengan pelatih Rudi Candra tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan 25 orang perempuan yang tergabung dalam Kelompok Meriah Ukur untuk secara swadaya dan berkelanjutan dapat menghasilkan day old quail (DOQ) atau bibit puyuh jenis Cortuix Japonica atau puyuh Jepang untuk diternakkan masyarakat asal Desa Suka Meriah tersebut nantinya.

 

“Target PKPA, nantinya, seluruh anggota kelompok Meriah Ukur, tidak lagi membeli bibit puyuh, tapi mereka dapat menetaskan sendiri, bahkan nantinya kita harapkan mereka menjual bibit puyuh di pasaran,” ujar Ismail.

 

Untuk itu, tambah Ismail, program PKPA dengan dukungan dana dari Yayasan Dompet Dhuafa tersebut telah menghibahkan mesin tetas telur puyuh dengan kapasitas tetas 200 butir sebanyak lima unit kepada Kelompok Meriah Ukur. 

 

Rudi Candra, yang merupakan pengusaha puyuh di Deli Serdang, menambahkan bahwa mesin tetas telur puyuh tersebut sesuai untuk pemula. Karena jika PKPA menghibahkan mesin dengan kapasitas lebih besar, maka faktor resiko kegagalan nantinya dapat menghambat kemajuan usaha tersebut. 

 

“Mesin ini memang kapasitasnya kecil, tapi ini cocok untuk pengusaha pemula, apalagi mesinnya secara otomatis berputar sendiri sehingga telur secara merata dapat dipanasi, jadi mereka tidak terlalu repot mengurus penetasannya,” jelas Rudi Candra.

 

Di akhir perbincangan, Ismail Marzuki, berharap bahwa program yang telah mereka lakukan sembilan bulan tersebut dapat menjadi percontohan alternatif penguatan ekonomi ini bagi pengungsi Gunung Sinabung yang telah direlokasi.* 

 

*dikirim oleh Sulaiman Zuhdi Manik, Koordinator Media dan Publikasi PKPA

 


Tag:

Berita Terkait

Cerita Sumut

Dinas Kominfo Medan Dukung PKPA Lindungi Anak dari Kekerasan Berbasis Daring

Cerita Sumut

Yayasan PKPA Kenalkan Hak Anak dalam Agenda Indonesia 4.0

Cerita Sumut

Gereja di Sumut Teken MoU menjadi Gereja Layak Anak

Cerita Sumut

Temu Nasional PUSPA Rekomendasikan Pentingnya Peningkatan Kualitas Ekonomi Perempuan

Cerita Sumut

Gereja di Sumut Teken MoU menjadi Gereja Layak Anak

Cerita Sumut

Anak-anak Sumut Bedah Medsos dan Keberagaman dalam Film dan Teater