Beritasumut.com-Menciptakan budaya ramah lingkungan kiranya tak bisa hanya dengan sosialisasi. Butuh aksi dan gerakan nyata dari para pemuda. Komunitas Sahabat Indonesia Berbagi (SIGI) Medan, menyadari hal tersebut dan mengaplikasikannya langsung dalam berbagai kegiatan yang dilakukan komunitasnya.
"Ikut Piknik Herritage nggak bayar, kok. Kita cuma minta 3 botol plastik bekas sebagai tiket masuk. Nantinya botol-botol plastik itu yang kita jual untuk talangi dana acara," ungkap Ketua SIGI Medan Desi Anggraini, kepada beritasumut.com di Taman Ahmad Yani Medan, Minggu (22/05/2016).
Desi mengatakan, SIGI, Medan Herritage, dan banyak komunitas anak muda lainnya sangat peduli dan ingin terus berbagi nilai-nilai kebaikan kepada seluruh masyarakat khususnya di kota Medan. "Sengaja kita minta botol bekas, sebab kita juga ingin berbagi kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya," tambahnya lagi.
Piknik Herritage yang diikuti oleh lebih dari 50 orang ini menyodorkan tantangan baru pada pesertanya. Permainan seperti lompat tali, engklek, kuaci, gatri, dan lain-lain, dikemas sebagaimana indahnya permainan tradisional.
Penanggung jawab acara Sulistyo mengatakan, permainan tradisional penting untuk terus dibudayakan bagi generasi kota Medan. "Permainan tradisional melibatkan interaksi sosial secara langsung. Ini juga supaya generasi muda kita jangan terus main gadget. Indonesia punya banyak ragam permainan yang menyenangkan dan bermanfaat," jelas Sulistyo.
Piknik Herritage merupakan kegiatan bulanan berbagai komunitas yang diakomodir oleh Medan Herritage. Panitia mengungkapkan, kegitan ini sudah berjalan selama 10 bulan, dimana setiap bulannya akan berganti pula komunitas penanggungjawabnya.
Aditya Gumay dari Tauko Tembung yang juga bagian dari komunitas besar Medan Herritage mengatakan, "Kegiatan ini dibuat untuk mempersatukan antar komunitas di kota Medan. Ketika kita bicara tentang Herritage, di dalamnya bukan cuma tradisi, benda seni, dan bangunan bersejarah, tapi juga bicara kuliner, permainan tradisional, dan segala yang terkait produk kebudayaan," pungkasnya. (BS02)