Beritasumut.com-Kesenian tradisional dan kesenian modern merupakan dua hal yang berlawanan arah. Seni tradisional seringkali dianggap tidak menarik dan terlalu "kolot" jika dibandingkan dengan seni modern yang hadir di era globalisasi ini. Kesenian tradisional semakin ditinggalkan dan dipandang sebelah mata, karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman bahkan sulit kita temui generasi muda yang masih memberikan perhatiannya terhadap pelestarian dari warisan leluhur Nusantara ini. Namun tidak bagi Niesya Harahap, mahasiswi Ilmu Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) kelahiran Medan 22 Januari 1996 ini telah mengawali karir di bidang seni sejak usia 13 tahun. Berbagai prestasi yang telah diukir oleh Niesya Harahap menyadarkan masyarakat akan warisan leluhur yang sedang menunggu untuk diserahkan kepada generasi penerus. Meski kiprahnya di bidang seni tradisional kurang mendapat perhatian dari masyarakat, khususnya generasi muda, namun prestasi yang dimiliki alumni SMP 1 Harapan Medan dan SMA 2 Harapan Medan ini cukup bergengsi untuk usianya yang masih terbilang cukup muda. Bahkan, ia tidak hanya menguasai satu bidang kesenian saja, namun menguasai 3 bidang sekaligus, yaitu seni tari, seni musik dan bidang tarik suara. Ini menjadi nilai positif dari Niesya sebagai generasi muda yang prihatin terhadap keberlangsungan tradisi Nusantara di masyarakat.Sejumlah bukti keseriusannya untuk melestarikan budaya, Niesya telah memebrikan penampilan terbaiknya dalm berbagai even di dalam maupun luar negeri. Di antaranya menjadi pengisi acara di Kuching, Sarawak Malaysia dalam acara festival tari antar bangsa, memainkan gamelan Jawa di New Zealand, ikut serta dalam konser choral drama Svara Sacra yang diselenggarakan di Medan, Jakarta hingga kota kembang, Bandung, bahkan menjadi Guest of Honor di acara “Frankfurt Book Fair" yang diselenggarakan di Eropa untuk menampilan tarian tortor Mataniari yang merupakan tarian tradisional dari Etnis Batak. Tentu saja tidak semua orang di usianya memiliki pengalaman yang besar seperti Niesya dalam memperjuangkan kelangsungan dari kesenian tradisional. Selain acara acara besar, ia juga aktif dalam kegiatan yang dilakukan di Universitas Sumatera Utara, mulai dari kesempatan untuk menari di acara Dies Natalis USU, memainkan ensamble angklung pada acara yang diadakan Fakultas Psikologi USU, hingga ikut dalam forum koordinasi pencegahan terorisme di bawah koordinasi dosen Fakultas Psikologi USU.(POS5 Publisher)